TRIBUNNEWS.COM, DUBLIN - Begitu kesebelasan Prancis tersingkir
secara tragis dari arena Piala Dunia 2010, Republik Irlandia justru
bersukacita. Bagi mereka, ini merupakan "hadiah" bagi Prancis, yang
telah "merampok" tiket putaran final event empat tahun tersebut, yang
seharusnya menjadi milik mereka.
Ya, Irlandia (dan dunia) pasti
masih ingat dengan jelas bagaimana Prancis menyingkirkan Irlandia di
babak play-off kualifikasi zona Eropa. "Les Bleus" harus menggunakan
tangan Thierry Henry untuk menjebol gawang Irlandia, yang membuat mereka
akhirnya melangkah ke Afrika Selatan.
Namun performa "Ayam
Jantan" di putaran final Piala Dunia 2010 ini sangat memprihatinkan.
Sebagai raksasa sepak bola dunia karena pernah menjadi juara dunia dan
raja Eropa, Prancis justru "mati kutu" karena cuma bisa meraih satu
hasil seri dan dua kali menelan kekalahan. Praktis, Perancis pun
langsung tersisih di penyisihan grup.
Hasil ini membuat Irlandia
sangat senang. Tak ada sedikit pun rasa prihatin atau simpati atas
kegagalan Henry dan kawan-kawan.
"Saya sangat senang karena
perjalanannya berakhir. Saya pikir, mereka pergi ke sana dengan cara
yang salah. Masih ingat cara mereka mengalahkan kami? Semuanya
terdokumentasi," ujar mantan manajer Irlandia, Liam Brady, yang mencatat
72 caps bagi negaranya tersebut.
"Mereka sungguh, sungguh
bermain buruk," jelas Brady kepada stasiun radio RTE, usai Perancis
dipermalukan tuan rumah Afsel dengan skor 2-1.
"Selain
permainannya jelek, tabiat mereka juga buruk dan mereka kembali ke rumah
dengan membawa malu. Dan Federasi Sepak Bola Perancis, tentu saja ikut
menanggung malu yang besar."
Majalah Times Irlandia
melaporkan "Lucu, Perancis hancur berantakan " ketika masa kepemimpinan
manajer Raymond Domenech sebagai pelatih Perancis, berakhir dengan rasa
malu yang besar.
Suratkabar Examiner menurunkan headline
"Domenech meratapi kegagalan meraih impian" karena kesempatannya sudah
berakhir dengan tragis. Timnya tersingkir lebih awal di Piala Dunia.
Ya,
Irlandia pantas kecewa dengan Perancis jika mengingat peristiwa bulan
November tahun lalu. Ketika itu, Henry mengontrol bola dengan tangannya,
untuk membantu William Gallas mencetak gol dalam laga play-off, yang
membuat Irlandia tersingkir. Henry memang mengaku telah membuat
kecurangan itu, tetapi hasil pertandingan tidak bisa berubah, sehingga
Irlandia tetap gagal melangkah ke Afsel.
Sebelum gol tersebut,
Irlandia unggul 1-0. Namun gol kontroversial di masa injury time itu
membuat skor akhir 1-1, dan Perancis yang berhak mendapat tiket putaran
final karena unggul agregat. Brady, yang waktu itu menjadi asisten
pelatih, melukiskan bahwa insiden itu "gila".
Rupanya, kutukan seluruh warga Irlandia membuat Perancis tak berdaya. Mereka harus bertekuk lutut dengan cara yang tragis. Sudah kalah dua kali dan hanya membawa pulang satu poin, "Les Bleus" juga cuma bisa mencetak satu gol dalam tiga laga penyisihan Grup A.
Baca tanpa iklan