Laporan Agung Setyahadi dari Johannesburg Afrika Selatan
JEJAK peradaban Joburg alias
Johannesburg tersembunyi di lorong-lorong bawah tanah yang kedalamannya
mencapai 3.293 meter. Lorong-lorong bekas penambangan mineral Aurum
itulah yang menjadi tonggak modernisasi kota emas Johannesburg sekaligus
munculnya apartheid.
Tonggak pertumbuhan pusat perekonomian
Afrika Selatan itu bisa ditelusuri di Gold Reef City. Kompleks tambang
tua yang ditutup pada tahun 1977 setelah beroperasi sejak 1896 itu
sekarang dikemas menjadi obyek wisata sejarah.
Perkampungan tua
penambang emas itu bisa ditempuh kurang dari satu jam dari Bandara OR
Tambo. Jika menggunakan penerbangan yang tiba pukul 07.00 waktu
Johannesburg, seperti yang digunakan oleh rombongan 11 Laskar Pamungkas
Biskuat, bisa langsung menuju Gold Reef City untuk mengisi waktu hingga
masuk hotel yang umumnya setelah tengah hari. Gold Reef juga pas untuk
mengisi waktu luang sebelum pertandingan sepak bola selama Piala Dunia
2010.
Menegangkan
Penelusuran lorong
tambang emas ini cukup menegangkan karena kita harus turun hingga
kedalaman 225 meter di bawah tanah. Para peziarah kota emas dibawa turun
menggunakan lift penambang yang sudah berkarat di sana-sini.
Sesaat tebersit keraguan tentang keamanan peralatan yang terlihat uzur
dengan cat kuning yang sudah mengelupas, menguak besi berkarat di
baliknya.
”Tenang, ini akan menjadi perjalanan yang
menyenangkan,” ujar pemandu kami yang mengaku bernama Soweto dan berasal
dari kota berpenduduk kulit hitam South West Township alias Soweto.
Lift
mulai bergerak turun menyusuri sumuran yang gelap. Di tengah perjalanan
turun itu, terdengar gemericik air yang keluar dari dinding sumur.
Kegelapan pekat membawa kami masuk ke perut bumi, seperti perjalanan ke
penjara Azkaban di dongeng sihir Harry Potter.
Ketegangan
memasuki penambangan itu juga dirasakan oleh para pekerja pada masa
silam yang diekspresikan dalam lirik lagu. Bekerja di penambangan adalah
penderitaan dan pengalaman yang menyakitkan/Pekerjaanmu berada di
lokasi yang berbahaya/Saat kamu menuruni lorong, kamu ragu bisa keluar
hidup.../Kematian begitu nyata dan kamu akan selalu berdoa serta
mengucapkan puji syukur kepada Tuhan setiap kali keluar dalam keadaan
hidup.
Lift berhenti di kedalaman 225 meter kurang dari lima
menit. Lorong di depan kami berukuran longgar dengan tinggi sekitar 2
meter dan lebar 1,5 meter. Di beberapa bagian ada penyempitan dan ada
yang melebar.
Dinding lorong goa dicat putih. Ini teknik kuno
yang cerdas untuk memendarkan cahaya lilin dan pelita pada awal
ditemukannya tambang emas itu pada 1886. Semakin ke dalam lorong
terdapat peralatan berteknologi, seperti pembalik arus listrik
bolak-balik ke arus searah. Alat itu masih berfungsi hingga sekarang.
Tiga
bahasa
Selain untuk penerangan, listrik juga menjadi
sumber tenaga pompa air untuk menyedot genangan ke dalam kolam besar di
bawah tanah. Di dalam lorong itu ada cerukan kecil yang menjadi tempat
berkumpul para penambang setiap pagi. Tempat itu masih ditempeli
poster-poster kuno tentang keselamatan penambangan. Uniknya,
poster-poster itu memuat tiga bahasa, yaitu Inggris, Perancis, dan Zulu,
salah satu suku di Afrika Selatan.
Penggunaan tiga bahasa itu
menunjukkan adanya ekspansi masyarakat dari Eropa ke Afrika Selatan
setelah ditemukan emas 124 tahun lalu di daerah Witwatersrand. Para
pemburu emas dari Eropa berbondong-bondong datang ke Johannesburg
membentuk koloni baru. Ada juga migrasi sekitar 63.000 orang China
selama 1904-1906 ke Johannesburg.
Para imigran itu berbaur dengan
masyarakat kulit hitam dari Afrika Selatan dan Mozambik. Pertemuan
berbagai ras itulah yang kemudian memicu segregasi dan menjadi salah
satu akar rezim apartheid di Afrika Selatan. Emas menjanjikan kekayaan
sekaligus memicu tragedi kemanusiaan.
Soweto kemudian berhenti di
sebuah gerobak kayu di depan cabang lorong diagonal yang menembus
dinding sebelah kanan kami. Gerobak uzur itu penuh dengan batu-batu
seukuran helm orang dewasa. Bongkahan batu itulah yang akan diambil
emasnya.
”Satu ton batu hanya menghasilkan 4 gram emas,” ujar
Soweto.
Fondasi Johannesburg
Nah, limbah
bebatuan setelah diambil emasnya itulah yang menjadi fondasi
Johannesburg modern. Jika menuju ke pusat kota dari arah Bandara OR
Tambo, di sebelah kiri jalan ada singkapan-singkapan bukit dengan
material berwarna kekuningan. Sebagian ditambang untuk diambil pasirnya.
”Pasir
kekuningan itu berasal dari penambangan emas kuno. Johannesburg ini
berdiri di atas emas,” ujar Linda, pemandu wisata kami.
Kembali
ke dalam lorong penambangaan emas, akhirnya kami sampai di ujung goa. Di
sana ada lorong lain yang posisinya diagonal mengarah ke permukaan
tanah. Lorong itulah yang dipakai oleh para penambang pada masa lampau
untuk masuk dan keluar lokasi penambangan. Lantai lorong itu dibentuk
undak-undakan kecil untuk mempermudah langkah kaki.
”Kalau ada
yang mau keluar lewat sini silakan, hanya perlu waktu dua jam,” ujar
Soweto sambil nyengir.
Penelusuran selanjutnya adalah peleburan
bijih emas menjadi balok emas cetakan. Proses peleburan ini dikemas
menjadi tontonan yang menarik di sebuah ruangan teater mini.
Setelah
menjelajahi sejarah di Gold Reef City, para wisatawan bisa bersantai di
kedai-kedai kopi atau restoran siap saji. Jika ingin mencari cendera
mata, banyak kios yang menjual pernak-pernik, mulai kaus, butiran emas,
hingga miniatur penambang.
Gold Reef City tempat yang tepat untuk
mengawali perjalanan di Johannesburg yang kini telah menjadi kota
metropolitan dan tuan rumah Piala Dunia 2010. (*)
Baca tanpa iklan