TRIBUNNEWS.COM - Tak mudah menjadi pelatih tim sekelas Brasil. Dua kemenangan awal yang
memastikan ”Selecao”lolos ke babak kedua Piala Dunia 2010 tak cukup
memuaskan penggemar mereka. Buat media Brasil dan mayoritas pendukung
tim ”Samba”, kemenangan tak banyak berarti tanpa permainan indah.
Keputusan
Pelatih Dunga yang keukeuh untuk bermain efisien dan meninggalkan
goyang ”Samba” membuat pendukungnya geregetan. Buat mereka, jogo bonito
adalah identitas dari bangsa yang bertabur pemain berbakat istimewa. Dan
Piala Dunia adalah panggung utamanya, yang selalu disambut dengan
antusiasme luar biasa.
Dari sopir taksi di Rio de Janeiro hingga
istana presiden Palacio do Planalto di ibu kota Brasilia, piala dunia
menjadi topik pembicaraan hangat. Sepak bola juga menjadi cara termudah
memulai pembicaraan.
”Anda suka sepak bola? Olahraga itu sangat
populer di sini, apalagi ada Piala Dunia. Semoga kami bisa bermain
cantik dan menjadi juara lagi,” kata August Silva, pengemudi yang
mengantar Kompas dari Bandara Antonio Carlos Jobim menuju pusat kota Rio
de Janeiro, akhir Mei lalu.
Ciri khas
August
mengikuti perkembangan termasuk soal lawan-lawan Brasil di Afrika
Selatan dan penunjukan Brasil menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014.
”Lawan memang berat, tetapi saya yakin kami bisa juara jika mampu
menampilkan ciri khas permainan kami. Apalagi, kami akan menjadi tuan
rumah pada tahun 2014. Pasti akan menjadi pesta yang meriah,” ujarnya.
Antusiasme
seperti itu terlihat saat selecao beruji coba melawan Zimbabwe di
Harare, 2 Juni. Pertandingan itu disiarkan langsung di Brasil dan
mendapat perhatian penuh warga. Di kafe dan kios makanan yang berjajar
sepanjang pantai, warga berkumpul di depan televisi menyaksikan Lucio
dan kawan-kawan bertanding.
Sopir taksi yang saya tumpangi petang
itu juga penggemar fanatik tim ”Samba”. Dia terlihat enggan ketika
petugas pul taksi mengingatkan gilirannya untuk mengantar penumpang saat
laga berlangsung. Tugas itu akhirnya diterima, tanpa melepaskan
pandangannya dari televisi kecil di dasbor taksinya.
Dengan gagah
berani, dia melaju sambil nonton. Sesekali dia berteriak kesal jika
pemain Brasil gagal memanfaatkan peluang. Mungkin dia sudah terbiasa
dengan aksi berbahaya ini karena, meski penumpangnya deg-degan,
perjalanan terbilang lancar. Hanya satu kali si sopir salah ambil
tikungan dan masuk ke jalan buntu.
Copacabana
Potret
lain kecintaan warga Brasil pada sepak bola indah bisa dilihat di
sepanjang pantai Rio de Janeiro. Pantai yang membentang dari Copacabana
di pusat kota, ke barat lewat Ipanema, Leblon, hingga Barra de Tijuca,
yang baru dikembangkan 15 tahun terakhir, menjadi tempat yang tepat
untuk mengasah kemampuan dan memamerkan kebisaan mereka mengolah si
kulit bulat.
Berkat ketegasan Pemerintah Brasil menetapkan pantai
sebagai ruang publik, pantai menjadi ruang terbuka untuk aktivitas
warga. Tak ada satu pun hotel, resor, atau rumah tinggal dibangun di
sisi pantai dan menjadikan pantai sebagai halaman belakang, seperti yang
terlihat pada banyak lokasi wisata di Indonesia. Jalan yang menyusur
pantai sepanjang puluhan kilometer membatasi pantai dengan bangunan
permanen di seberang jalan.
Dengan pantai sebagai halaman depan,
semua pihak pun tergerak untuk menjaga kebersihannya. Di hamparan pasir
putih tanpa sampah itu, terdapat puluhan lapangan voli pantai yang ramai
digunakan warga setiap akhir pekan.
Uniknya, hanya sedikit yang
benar-benar digunakan untuk bermain voli pantai, olahraga yang juga
populer di Brasil. Sebagian besar justru digunakan untuk bermain sepak
bola, dua lawan dua. Tak heran, keahlian mengolah bola menggunakan kaki,
kepala, dan dada terasah di sini.
”Kami memang lebih suka
bermain sepak bola. Banyak pemain sepak bola juga awalnya berlatih di
pantai sehingga bisa melakukan trik-trik yang indah di lapangan hijau,”
ujar Jefferson, pedagang makanan di Barra de Tijuca.
Meski banyak
dikritik penggemar jogo bonito, Dunga mendapatkan dukungan penuh orang
nomor satu di Brasil, Presiden Luiz Inacio Lula da Silva. Presiden yang
dikenal gila bola itu mendukung otoritas Dunga menentukan skuadnya,
termasuk tidak membawa Ronaldinho ke Afrika Selatan. Lula juga mendukung
pilihan Dunga untuk bermain efisien dan meninggalkan jogo bonito.
Ambisi
Brasil
Lula adalah salah satu tokoh yang mengegolkan
Brasil menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014 dan Rio de Janeiro menjadi
tuan rumah Olimpiade 2016. Ketika membuka pertemuan para pemangku
kepentingan transportasi darat Challenge Bibendum di Rio de Janeiro,
awal Juni, Lula dengan tegas menyebut upayanya untuk menyejajarkan
Brasil dengan negara terkemuka dunia lainnya.
”Kami bosan menjadi
warga kelas dua. Tim sepak bola kami sudah menjadi juara dunia lima
kali. Kini saatnya menunjukkan kami juga bisa menggelar ajang
prestisius, seperti Piala Dunia dan Olimpiade,” ujarnya berapi- api.
Pasukan
Dunga tampil di Afsel dengan tugas berat untuk bermain indah dan
menjadi juara. Namun, tugas berat itu dijalani dengan dukungan penuh
pemerintah dan warga Brasil dari kampung halaman. Karena itu, slogan
yang terpasang pada bus tim Brasil di Afsel menjadi terasa sangat pas: Lotado!
O Brasil inteiro está aqui dentro! (Penuh sesak! Seluruh Brasil
ada di sini!).
(KOMPAS CETAK)
Tanpa Gaya Samba, Brasil Dikecam Pendukung
Editor: Iwan Apriansyah
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan