Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Saat ini aspek berkelanjutan (sustainability) dan teknologi menjadi hal yang tidak dapak dipisahkan dalam upaya menangani permasalahan lingkungan.
Karena teknologi dapat memainkan peran penting lantaran tidak hanya dapat membantu mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas manusia saja, mamun juga menggaungkan pembangunan berkelanjutan.
Banyak pengembang yang membangun konstruksi bangunan termasuk rumah modern melalui penggunaan material ramah lingkungan.
Jika ditinjau pada konteks pencapaian target emisi nol bersih secara global pada 2050, rumah modern dapat mengurangi emisi karbon dioksida melalui penerapan prinsip berkelanjutan berbasis teknologi.
Data pada 2019 menunjukkan bahwa rumah adalah konsumen listrik terbesar yang menyumbang 34 persen emisi karbon dioksida, jumlahnya diprediksi meningkat hingga dua kali lipat pada 2050.
Baca juga: LG Kenalkan Teknologi AI di Mesin Pendingin Ruang untuk Segmen Komersial
Penerapan serangkaian inovasi teknologi hijau yang memanfaatkan sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) dan mengurangi konsumsi energi sangat penting untuk melawan perubahan iklim global.
Home & Distribution Business VP Schneider Electric Indonesia, Farhan Lucky mengatakan ada 4 tantangan yang dihadapi dalam upaya mewujudkan rumah modern berkelanjutan.
Tantangan pertama adalah aspek berkelanjutan, karena diperlukan adanya dorongan dan edukasi mengenai pentingnya penerapan prinsip berkelanjutan dalam membangun rumah modern.
"Ini dilakukan demi mengurangi dampak kerusakan lingkungan yang mengakibatkan perubahan iklim," kata Farhan kepada wartawan, Kamis (22/6/2023).
Selanjutnya adalah aspek ketahanan dan resiliensi, hal ini mengacu pada masih banyaknya peristiwa korsleting listrik yang memicu terjadinya kebakaran.
"Contohnya adalah tentang kejadian korsleting listrik yang masih sering terjadi, baik di luar negeri maupun di Indonesia. Di Eropa dan Amerika Serikat saja, setidaknya telah merugikan pemilik rumah sebesar 3,6 miliar euro setiap tahunnya," jelas Farhan.
Kemudian tantangan ketiga, kata dia, mengacu pada aspek efisiensi.
Ia menilai penerapan manajemen energi dan otomasi diperlukan untuk mengurangi konsumsi listrik pada rumah modern.
"Ketiga, efisiensi. Rumah modern memiliki kecenderungan untuk mengkonsumsi listrik lebih banyak, baik untuk gadget, peralatan pendukung kenyamanan, keamanan dan pekerjaan rumah. Perlu diterapkan manajemen energi dan otomasi untuk mengatasi hal ini," tegas Farhan.
Sementara itu tantangan keempat terkait personalisasi.
"Karena banyak orang menghabiskan banyak waktu di rumah, dari bekerja hingga momen berkualitas bersama keluarga, maka peran teknologi dalam konteks digitalisasi sangat dibutuhkan untuk mewujudkannya," papar Farhan.
Menyoroti empat tantangan tersebut, pihaknya mendirikan Home & Distribution.
Terkait lini usaha ini, Farhan pun menjelaskan bahwa rumah modern memiliki beberapa komponen yang harus dilengkapi agar dapat berdiri tanpa merusak lingkungan.
"Komponen-komponen tersebut letaknya tersebar dan harus disatukan dalam sebuah pengelolaan rantai pasok rumah modern yang terintegrasi. Untuk itulah lini usaha Home & Distribution didirikan," jelas Farhan.
Wiser menjadi salah satu solusi yang ditawarkan, karena dapat menghubungkan orang dengan rumahnya, baik melalui kendali perangkat saklar maupun aplikasi smartphone.
"Dari aspek keamanan, perangkat ini dapat menampilkan deteksi gerakan, kebocoran air, tutup dan buka pintu, serta deteksi suhu dan kelembaban. Ini mampu meningkatkan efisiensi penggunaan energi dan kenyamanan hidup penghuni rumah modern," kata Farhan.
Terdapat pula EVlink untuk melakukan charging atau recharging kendaraan listrik atau Electronic Vehicle (EV) yang kini telah menjadi program yang digadang-gadang pemerintah.
Melalui solusi ini diharapkan rumah modern dapat melakukan sendiri charging maupun recharging kendaraan listrik mereka, khususnya kendaraan roda empat secara efisien dan aman.