Oleh Ustad Jeffry Al Buchori
TRIBUNNEWS.COM - APABILA Ramadan tiba, bagi Rasulullah SAW tidak ada waktu selain yang melainkan digunakan untuk dzikrullah dan beramal saleh. Begitu pula dengan keluarga dan para sahabatnya yang senantiasa beliau motivasi dan beri semangat untuk berlomba-lomba berbuat kebajikan.
Sebuah hadis menjelaskan hal tersebut, "Telah datang kepadamu Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan para setan diikat; Dan juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa tidak memperoleh kebaikannya, maka ia tidak memperoleh apa-apa." (HR Ahmad dan An-Nasa'i)
Dari hadis tersebut kita dapat menyimpulkan tiga hal. Pertama, telah datang kepada kita, Ramadan, bulan yang diberkahi oleh Allah. Dan, Allah mewajibkan kita berpuasa. Maka berpuasalah agar kita mendapatkan barakah-Nya.
Kedua, pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu neraka dan setan-setan dibuka. Maka, bahagialah kita karena dengan begitu ringanlah langkah-langkah kita untuk berlomba-lomba dalam beribadah dan beramal saleh.
Ketiga, pada bulan ini terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Artinya, barang siapa bersungguh-sungguh di dalamnya, maka Allah menjamin bahwa keberuntungan akan ada pada diri kita.
Sebaliknya, barang siapa bermalas-malas untuk mendapat kebaikannya, maka sungguh kerugian akan menimpanya.
Oleh sebab itu, dengan mudah akal kita akan mengatakan "Saya ingin mendapatkan berkah dan rahmat itu. Saya ingin menjadi orang pertama yang dijauhkan dari setan dan dimudahkan masuk surga. Saya tidak akan malas. Saya akan membiasakan diri mulai awal puasa untuk banyak membaca Alquran, sedekah, dan tidak akan ketinggalan Salat Tarawih. Jika ada orang yang mendapatkan kebaikan yang lebih baik dari seribu bulan, maka itulah SAYA." Subhanallah.
Kata-kata SAYA yang saya maksudkan di sini bukan berarti untuk menyombongkan diri, namun sebagai bahan bakar yang akan kita gunakan sebagai penyemangat kita dalam fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). Dan seperti itulah gambaran kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya dalam menghadapi Ramadan.
Para sahabat, ada yang berlomba-lomba tadarus, khatam, bahkan menghafal Alquran, ada juga yang berlomba memperbanyak bersedekah. Namun, Rasulullah SAW memahami kekuatan standar maksimal bagi umatnya, sehingga tidak memberatkan mereka dan tidak pula menjadikan mereka meninggalkan kewajiban-kewajiban yang lain, seperti sebagai kepala keluarga.
Perlu diperhatikan bahwa perlombaan yang para sahabat Rasul contohkan bukanlah untuk tujuan sum'ah, riya, maupun ujub. Namun, hal itu untuk dirinya sendiri, bukan untuk dilihat, didengar, ataupun mendapat pujian dari orang lain.
Dengan demikian, segala amal ibadah yang dikerjakan tersebut untuk meningkatkan kualitas diri. Setiap amal ibadah tersebut dilakukan agar terasa nikmat ke dalam hati dan menimbulkan ketentraman, dan ke dalam zahir menyejukkan pandangan.
Klik juga:
Enam Amalan Utama Selama Ramadan
Baca tanpa iklan