TRIBUNNEWS.COM - Kereta Api Parahyangan memang diluncurkan
secara resmi pada 31 Juli 1971. Namun, rekam jejak perjalanannya,
sesungguhnya sudah tercetak sejak zaman pemerintah Hindia Belanda.
Saat
itu, KA Parahyangan, yang mengantarkan penumpang dari Jakarta-Bandung
dan Bandung-Jakarta, berangkat dengan jadwal 4 kali sehari. Julukan "Si
Empat Cepat" pun ditabalkan pada kereta ini.
Kisah perjalanan
panjang KA Parahyangan sebelum dihentikan operasinya mulai 27 April 2010
besok, diceritakan oleh pengurus Indonesia Railways Preservation
Society (IRPS), Nur Cahyo. IRPS merupakan komunitas pecinta dan
pelestari kereta api.
"Sejak zaman Hindia Belanda dulu,
Parahyangan sudah menjadi kebanggaan. Bahkan mencapai rekor, menempuh
perjalanan Jakarta-Bandung 173 km dalam waktu tempuh dua jam," ujar Nur,
dalam sambung rasa pada "Farewell Trip Parahyangan", di atas KA
Parahyangan, Senin (26/4/2010) petang.
Tahun 1953, Parahyangan
menjadi KA Patas Bandung-Jakarta, saat ditarik dengan lokomotif diesel
CC 200 yang merupakan loko diesel pertama di Indonesia. "Bagusnya jumlah
penumpang, kemudian membuat KA Parahyangan ditingkatkan statusnya.
Tanggal 31 Juli 1971, diresmikanlah KA Parahyangan oleh Direktur PJKA
saat itu, Gubernur Jawa Barat, dan Menteri Perhubungan.
Setelah
diresmikan, jadwal "Si Empat Cepat" masih tetap yaitu jam 5 pagi, jam 11
siang, jam 3 sore dan jam 6 sore," ungkap Nur Cahyo. Awal 1980-an,
dari jadwal yang hanya 4 kali meningkat menjadi 8 kali dan pernah
mencapai rekor 16 jadwal keberangkatan dalam satu hari.
Pada
tahun 1986, bekerja sama dengan Garuda Indonesia, KA Parahyangan
dibuatkan gerbong kelas 1 alias eksekutif. Sejak itu, KA Parahyangan
menjadi kereta istimewa dengan kelas eksekutif.
"Kemudian,
tahun 1996, Argo Gede diluncurkan dengan CC 203 dan pamor Parahyangan
mulai menurun," jelasnya. Kondisi okupansi penumpang Parahyangan
semakin memprihatinkan saat beroperasinya jalan Tol Cipularang tahun
2005. Saat itu, para penumpang setianya beralih menggunakan travel
karena waktu tempuh yang lebih cepat.
Tahun 2006, frekuensi
keberangkatan pun menjadi semakin menurun, hanya 5-6 kali keberangkatan.
"Dicoba dengan menurunkan tarif, sebetulnya lumayan berhasil. Tetapi,
tiba-tiba kita mendengar kabar bahwa KA Parahyangan akhirnya
dihapuskan," kata dia.
Salah satu penumpang setia KA
Parahyangan, Hajjah Suhardi, masih berharap PT KA membatalkan rencana
penghapusan. Harga tiket Parahyangan dinilainya sesuai dengan "kantong"
masyarakat lapisan menengah ke bawah. (*)
Napak Tilas Kereta Si Empat Cepat
Editor: Iwan Apriansyah
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan