TRIBUNNEWS.COM, BALI -- Dua pria yang berperan sebagai gigolo dalam film Cowboys in Paradise dijemput polisi dari tempat mangkalnya di Pantai Kuta, Kabupaten Badung, Bali.
Keduanya, yakni Dennis (28) dan Bima (31), lalu diperiksa di ruang penyidik Direktorat Reskrim Polda Bali di Denpasar. Kabid Humas Polda Bali, Kombes Gde Sugianyar mengakui bahwa pihaknya telah menjemput dua "aktor" yang telah ambil bagian dalam produksi film yang kontroversial itu.
"Untuk lebih cepatnya kami jemput saja, ketimbang lama-lama menunggu mereka lewat pemanggilan," ujarnya.
Selain yang dijemput, siang tadi ada juga "aktor" yang datang sendiri ke markas Polda Bali, yakni I Ketut Suardana.
Sehari sebelumnya, Kamis (29/4/2010), tiga pemeran lain telah terlebih dahulu dijemput petugas dari tempat mangkal mereka di Pantai Kuta. Ketiganya adalah Rosnan Efendik alias Fendi, Sugiarto alias Argo, dan Suwarno yang akrab dipanggil Arnold.
"Semua pemeran film tersebut kami jemput atau kami panggil untuk dimintai keterangan, tidak yang lainnya," kata Kombes Sugianyar.
Dalam film Cowboys in Paradise, Dennis yang berasal dari Bukittinggi, Sumatra Barat, antara lain terlihat berakting di Pantai Kuta dengan menendang-nendang bola. Sementara Bima yang asli Jember, Jawa Timur, diambil gambarnya ketika sedang berselancar.
Senada dengan ketika temannya yang telah terlebih dadulu diperiksa, baik Dennis maupun Bima juga mengaku tidak tahu jika gambar yang diambil oleh sang sutradara film, Amit Virmani, adalah untuk keperluan film dokumenter.
"Kami tidak tahu kalau itu untuk film dokumenter, sebab kru yang mengambil gambar hanya mengatakan untuk koleksi pribadi," ujar Dennis kepada polisi.
Sedangkan Suardana yang adalah tokoh masyarakat Ubud, Kabupaten Gianyar, dalam film tersebut terlihat muncul selama beberapa detik bersama istrinya, Jeanet De Neffee, yang kelahiran Australia.
Sebelum memasuki ruang pemeriksaan, Suardana mengaku siap dimintai keterangan oleh polisi seputar film itu. "Dimintai keterangan apapun, saya siap," kata dia.
Suardana mengaku tidak tahu jika wajah dan namanya telah digunakan dalam film yang sudah merusak citra Pulau Dewata itu. Awalnya, ia ditemui oleh Amit dan rekannya yang meminta untuk berkomentar seputar bahaya penyakit HIV/AIDS di Bali. Karena peduli dengan bahaya penyakit tersebut, dia pun mengaku bersedia untuk diwawancarai.
Namun belakangan, Suardana mengaku sangat kecewa bahwa hasil wawancara tersebut ternyata muncul dalam rangkaian film dokumenter yang mengisahkan tentang kehidupan gigolo di Pantai Kuta.
Kabid Humas mengatakan bahwa ketiga orang yang diperiksa pihaknya hingga petang hari itu masih dalam kapasitas sebagai saksi.
"Tidak mungkin kami panggil orang untuk tiba-tiba dijadikan sebagai tersangka," katanya.
Ia menjelaskan masih ada beberapa saksi yang terlibat dalam film tersebut yang akan dimintai keterangan.
"Mungkin besok atau beberapa hari ke depan masih ada beberapa saksi yang akan dipanggil lagi," ucapnya. (wartakota.co.id)
Dua "Cowboy" Bali Dijemput Polisi
Editor: Tjatur Wisanggeni
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan