"SELAMAT siang, selamat siang, selamat siang," begitu suara koor dari murid SD Katolik Kelewae, saat memasuki ruang depan gedung DPRD Kabupaten Nagekeo, Jumat (30/7/2010).
Para murid yang mengenakan seragam merah putih lengkap dengan dasi dan topi itu seakan tidak peduli dengan ucapan salam mereka yang tidak dijawab penghuni gedung tersebut.
Maklum saat itu anggota Dewan sudah di dalam ruangan sidang untuk menerima kedatangan mereka. Beberapa pegawai juga masih sibuk dengan urusan masing-masing.
Setelah memulai dialog, Ketua DPRD, Gaspar Batu Bata meminta ketua komite, murid serta kepala sekolah menyampaikan maksud kedatangan mereka ke rumah rakyat.
Setelah Ketua Komite Fridus Mere, menyampaikan keluhannya, tibalah giliran murid. Yakobus Deside R Lako dan Yuliana Avilia Bupu Wea tiba-tiba ditunjuk mewakili 38 temannya untuk berbicara di depan anggota Dewan, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) dan Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Nagekeo.
"Sekarang saya minta anak murid yang berbicara. Siapa, mana yang kelas 6? Ya, saya minta untuk menyampaikan sesuatu kepada kami," kata Gaspar.
Suasana terdiam sesaat. Yakobus yang mendapat bisikan dari teman sekitarnya berdiri dan maju menghampiri kursi pimpinan dan anggota Dewan.
Ayunan langkahnya agak kaku, maju lalu berhenti sebentar untuk mengenakan topi berwarna merah hati yang dipegang tangan kanannya. Tidak lama berselang, Yuliana pun maju. Kedua murid kelas 6 ini berdiri berimpitan didampingi kepala sekolah, Margareta To.
Yakobus dan Yuliana menjadi pusat perhatian para anggota Dewan dan aparat pemerintah Kabupaten Nagekeo yang hadir saat itu. "Kami menyesal karena sudah lima hari kami tidak sekolah," ujar Yakobus.
Hanya itu ungkapan hatinya. Walau bibirnya agar bergetar tetapi dia berhasil menyampaikan pesan yang dimengerti oleh semua yang mendengarkan.
Selanjutnya, giliran Yuliana bersuara. Agak gugup namun akhirnya berhasil menyampaikan aspirasinya. "Kami menyesal, kami sudah lima hari tidak bisa sekolah karena disegel," kata Yuliana agak terbata-bata.
Mendengar pengakuan polos kedua murid itu, Gaspar Batu Bata meminta semua yang hadir untuk memberikan aplaus.
"Jangan sampai kamu sudah diajarkan oleh gurumu untuk berkata begitu?" tanya Gaspar kepada keduanya. Walaupun tidak memberi jawaban dengan suara yang jelas, keduanya menggelengkan kepala.
Suasana haru terjadi saat Ibu Margareta terisak-isak saat menyampaikan keluhannya. "Kami minta solusi yang paling baik, karena sudah lima hari kami tidak sekolah. Ruangan kelas sudah disegel pemilik tanah. Setiap hari anak-anak datang hanya bersihkan halaman sekolah, lalu bermain dan pulang ke rumah," kata Margareta.
"Seandainya ruangan TK tidak ditutup, mungkin kami bisa mengambil kebijakan untuk sekolah di situ. Tetapi semuanya disegel," tutur Margareta disertai deraian air mata.
Ibu ini merangkap Kepala SD dan Taman kanak-kanak Budi Luhur Kelewae. Semoga ungkapan polos murid SD dan air mata ibu kepala sekolah menjadi perhatian.
Penyesalan dan Air Mata
Editor: OMDSMY Novemy Leo
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan