Laporan Wartawan Tribun Jabar, Siti Fatimah
TRIBUNNEWS, BANDUNG - Hari Bahasa Ibu Internasional diperingati setiap tanggal 21 Februari. Beragam cara dilakukan untuk memperingati momen ini. Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung adalah satu universitas yang konsisten memperingati Hari Bahasa Ibu Sedunia ini.
Pada peringatan kali ini, Unpad kembali menggelar Pasanggiri Tarucing Cakra Basa Sunda atau lomba teka-teki silang (TTS) dalam bahasa Sunda, di Kampus Unpad Jalan Dipatiukur, Senin (21/2/2011). Selain mengasah kemampuan peserta dalam menjawab soal-soal TTS dalam bahasa Sunda, kegiatan ini dimaksudkan untuk melestarikan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu dari masyarakat di Tatar Sunda.
Mengisi TTS menggunakan bahasa Indonesia tentu tidak sulit. Tapi bagaimana mengisi TTS yang soal dan jawabannya harus menggunakan bahasa Sunda? Itulah yang tidak biasa.
Itu pula yang terlihat di Bale Rumawat, saat sekitar 200 peserta Pasanggiri Tarucing Cakra, yang digelar Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PPSS) dan Paguyuban Mahasiswa Sastra Sunda (Pamass) Unpad, mengisi TTS. Setiap peserta menghadapi sebuah laptop dengan TTS terpampang di monitornya.
Ada 106 soal yang harus dijawab dan diisi di dalam kotak-kotak TTS, baik kotak ka handap (ke bawah) maupun kotak ka gigir (ke samping).
Cukup banyak peserta yang kesulitan mengisi kolom pada Tarucing Cakra itu. Ini bisa dilihat saat waktu sudah berjalan satu jam, masih banyak peserta yang kolomnya kosong atau belum terisi.
Nono Suwarno, siswa SMK 4 Bandung, salah seorang peserta Tarucing Cakra, mengaku cukup kesulitan menghadapi soal-soal dalam bahasa Sunda tersebut. Menurut Nono, yang mengaku orang Sunda asli, pertanyaan dalam Tarucing Cakra bukanlah pertanyaan yang asing. Namun ternyata untuk mencari jawaban yang tepat tidaklah semudah soalnya.
Seperti soal yang menanyakan ngaran manuk gedena ngan sacekel buluna rengge jeung diingu. Menurut dia, soalnya mudah, tapi nama burung dalam bahasa Sunda yang dikenal oleh masyarakat Sunda ternyata tidak banyak diketahui oleh orang, termasuk dirinya yang orang Sunda asli.
"Soalnya sekilas mudah, tapi ternyata sulit. Apalagi buat orang yang jarang menggunakan bahasa Sunda dalam sehari-hari, pasti tambah sulit. Sama seperti soal yang menanyakan sora klakson kendaraan. Kalau pakai bahasa Indonesia pasti banyak yang tahu. Nah, ini dalam bahasa Sunda, pasti banyak yang nggak tahu," kata Nono, yang sudah dua kali mengikuti TTS bahasa Sunda di Unpad ini, saat ditemui di sela-sela lomba, kemarin.
Nono juga menuturkan, TTS dalam bahasa Sunda memiliki tantangan lebih dibanding mengisi TTS dalam bahasa Indonesia.
Jika tidak tahu jawaban dalam TTS bahasa Indonesia, ia bisa dengan mudah bertanya pada orang lain. Tapi kalau TTS bahasa Sunda, ternyata tidak semua tahu, termasuk orang lain yang lebih tua dan mengerti dalam bahasa Sunda.
"Saat latihan, saya pernah tanya sama orang lain pertanyaan bahasa Sunda. Tapi meski lebih tua dan bisa bahasa Sunda, mereka juga nggak ngerti. Jadi sebenarnya bahasa Sunda tuh kosa katanya banyak banget. Kalau nggak terbiasa pakai bahasa Sunda, pasti lieur," katanya.
Hal serupa diungkapkan Aditya, siswi SMK 4 Bandung. Ia mengaku baru pertama kali ikut lomba TTS bahasa Sunda ini. Dan di luar dugaannya, TTS bahasa Sunda jauh lebih sulit dari TTS bahasa Indonesia.
Menurut perempuan berjilbab ini, TTS bahasa Sunda banyak pertanyaan umum, tapi jawabannya ternyata tidak sesuai dengan kolom yang harus diisi. Dicontohkan Aditya, ia tahu jawaban pertanyaan dari soal ukuran berat yang dipakai zaman dulu. Namun begitu jawaban dimasukkan dalam kolom TTS ternyata tidak sesuai.
"Ini berarti kosa kata yang kita tahu dalam bahasa Sunda sehari-hari ternyata bukan hanya satu. Banyak kosa kata yang bisa mengartikan satu nama. Istilahnya, satu benda bisa punya banyak nama atau sebutan. Ternyata bahasa Sunda itu luas banget. Kita hanya tahu sedikit," kata Aditya, yang pasrah karena cukup banyak kolom yang belum terisi tapi waktu sudah hampir habis.
Bukan cuma Aditya dan Nono, seorang guru sebuah SMK, Ratna, juga mengakui soal-soal dalam Tarucing Cakra ini cukup sulit, terutama bagi mereka yang tidak biasa menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari. Menurut Ratna, pertanyaannya cukup mudah, tapi kosa kata untuk menjawab pertanyaan tersebut ternyata tidak sesuai dengan kolom jawaban yang diminta.
"Kalau saya, masih bisa lah menjawab pertanyaannya, meski harus berpikir juga. Tapi buat yang lain, terutama anak muda sekarang, soal-soal ini cukup sulit," ujarnya.
Menurut Faza Fauzan Azhima, Ketua Pamass, Tarucing Cakra ini dimaksudkan tidak hanya untuk melestarikan bahasa Sunda, tapi juga mengasah kemampuan peserta dalam menggunakan bahasa Sunda. Sebab, kata dia, saat ini anak muda jarang sekali menggunakan bahasa Sunda dalam pergaulannya. Mereka cenderung menggunakan bahasa Indonesia.
"Padahal agar bahasa Sunda lestari, salah satu caranya harus digunakan dalam pergaulan. Dan pada kegiatan ini kami juga mengajak kembali untuk lebih sering lagi menggunakan bahasa Sunda, bahwa ternyata bahasa Sunda itu memiliki banyak kosa kata," kata Faza.
Menurut Rektor Unpad Prof Ganjar Kurnia, Pasanggiri Tarucing Cakra Basa Sunda yang digelar Unpad adalah satu-satunya lomba TTS dalam bahasa Sunda yang digelar di Indonesia, bahkan di dunia. Lomba ini juga merupakan salah satu kegiatan untuk mengingatkan kembali bahwa bahasa Sunda adalah bahasa ibu yang harus digunakan sehari-hari. "Lagi pula, kenyataannya, menurut hasil penelitian, anak yang menggunakan dwibahasa lebih cerdas," katanya. (*)
Asyiknya Mengisi TTS Berbahasa Sunda
Editor: Harismanto
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan