News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Masyarakat Batak Mulai Melupakan Batak

Editor: Alfred Dama
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Tarian tor-tor salah satu kekayaan budaya Batak

Laporan Wartawan Tribun Medan, Irfan Azmi Silalahi

TRIBUNNEWS.COM, MEDAN - Mulai menjamurnya sisi-sisi kehidupan modern, tak terelakkan membuat Batak dalam arti sempit meliputi budaya dan bahasa pelan-pelan ditinggalkan.

Hal itu dikatakan Ketua Umum Komunitas Artis Batak Medan (Karisbma) Bindu Situngkir, saat disambangi Tribun di sekretariat mereka Jalan Karya Pembangunan No 5 Medan, Sumatera Utara Kamis (23/6/2011).

Dijelaskannya, komunitas yang berdiri atas tujuan menyosialisasikan peran Batak dalam kesenian tanah air, untuk saat ini kurang mendapatkan respon positif dari pemerintah. Bahkan, masyarakat Batak sendiri yang harusnya berkepentingan dan bertanggungjawab secara moral melestarikan budayanya sendiri kurang peduli.

"Tujuan kita perlahan akan kearah sana, yaitu bagaimana budaya Batak dan para senimannya bisa diakui pada level nasional, sama halnya dengan penggiat seni lainnya. Pada era 1980an dan 1990an, artis dan penggiat seni Batak cukup populer, namun kini namanya saja sudah asing didengar," ujarnya.

Pria yang pada tahun 1980an tergabung dalam group vokal Batak The Mer's dan sempat tampil di negara Malaysia dan Singapura ini mengatakan, kesalahan sebenarnya tidak terfokus kepada pemerintag saja.

Melainkan individu itu sendiri serta peran orangtua yang tidak mengajarkan budaya Batak kepada anak-anak mereka, perlahan membuat Batak kemungkinan akan tersisihkan.

Untuk membangkitkan budaya Batak, dirinya bersama sekelompok teman-teman dalam komunitas mereka pernah menggelar festival lagu-lagu daerah se-Sumatera Utara di Taman Budaya, 28 Mei 2011 lalu. Namun sayang, keingintahuan masyarakat bisa terbaca dengan tidak berpartisipasinya banyak pihak di kegiatan ini.

"Medan dari zaman Belanda dikenal dengan tanah Deli, karena suku asli yang hidup adalah Melayu. Namun kenapa, siapapun pejabat bahkan presiden yang datang mengucapkan kata Horas, yang menjadi kebudayaan Batak. Begitu kuat dan mengakarnya budaya Batak ketimbang Melayu di Medan, kenapa perkembangan antusias masyarakat untuk mempelajari etnis dan budaya Batak sangat minim," ujarnya lagi.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini