News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Lantik Pengurus Demokrat Pontianak, Anas-Ibas Naik Becak

Editor: Hendra Gunawan
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum (kiri) dan Sekjen Demokrat Ibas, naik becak menuju tempat pelantikan pengurus DPD Demokrat Kalbar di Pontianak Convention Center Kota Pontianak, Sabtu (28/1/2012).

Laporan Tim Wartawan Tribun Pontianak

TRIBUNNEWS.COM, PONTIANAK - Di tengah isu panas pelengseran dari jabatan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum dan Sekjen Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono, naik becak sekitar dua kilometer dari Hotel Mercure ke Pontianak Convention Centre (PCC) di Kota Pontianak, Sabtu (28/1/2012).

Kala itu, keduanya dalam perjalanan menghadiri pelantikan pengurus harian DPD Partai Demokrat Kalbar. Rombongan becak yang mengantar Anas dan Ibas, menarik perhatian masyarakat Pontianak karena diikuti sekitar 300 becak.

Rombongan becak itu didahului rombongan pemain musik khas Melayu. Di depan PCC, Anas dan Ibas disambut tarian khas Tionghoa dan Dayak.

Turut mendampingi Anas, Ketua DPD Demokrat Kalbar, Suryadman Gidot dan Wakil Wali Kota Pontianak Paryadi, serta sejumlah pejabat pemerintahan. Selain melantik pengurus harian DPD Demokrat Kalbar, Anas melantik pengurus Garda Perbatasan Partai Demokrat Kalbar.

Ari (23), satu di antara abang becak mengaku hanya ikut ajakan kawan, dan mendapat imbalan Rp 50 ribu untuk mengantar para petinggi partai itu. "Ya bersyukurlah, ini kan partai politik besar, jadi sedanglah dapat segitu. Kalau sehari mana bisa segitu," kata Ari biasa mangkal di depan Matahari Mall.

Tak hanya rombongan becak, jalan sehat yang digelar Demokrat menyita perhatian publik. Apalagi panitia menyediakan lima unit motor, tiga sepeda, lima televisi, lima kulkas, dan beragam hadiah lainnya.

Ketika memberi sambutan dalam pelantikan, Anas memberi empat pesan kepada kader Demokrat Kalbar terkait konflik yang berkobar di beberapa daerah.

"Setelah 14 tahun, akhirnya Indonesia kembali menjadi nagara yang layak investasi. Karena itu, kita harus mewaspadai potensi yang mengganggu, pontensi yang melepaskan kesempatan, dan potensi yang tak bisa mengambil peluang ini," kata Anas.

Konflik pertama yang dimaksud, agraria. Konflik di Mesuji dan Bima jadi contoh dan tak boleh meluas hingga Kalbar. Konflik kedua, sektor perburuhan. Konflik ini bisa merusak harmonisasi antara pekerja dengan pengusaha.

"Selanjutnya konflik SARA. Kita jaga betul hubungan kemajemukan ini dengan baik dan dewasa. Jangan sampai konflik SARA memecah belah kita. Kalbar punya sejarah konflik ini dan tentu kita tak ingin itu muncul kembali," tegasnya.

Konflik terakhir, akibat kemiskinan dan pengangguran. Dua hal ini bisa menimbulkan konflik yang disebut Anas sebagai konflik kelas sosial. (arm/rhd)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini