TRIBUNNEWS.COM, BOGOR - Dari delapan korban ambruknya titian Cihideung di Ciampea, Kabupaten Bogor, hingga hari kedua, Senin, baru dua orang yang ditemukan. Masih ada enam orang lagi yang tidak diketahui nasibnya, namun diduga tenggelam di dasar Sungai Cihideung atau Sungai Cisadane.
Umumnya korban ini anak-anak, di bawah usia 12 tahun. Mereka adalah kakak beradik Eka binti Eman (10) dan Rafi binti Eman (12), warga RT 06/RW 02. Kemudian Ajay binti Engkos (10) warga RT 04/02, Dini Novianti binti Edi Jenedi (9) warga RT 06/02, Jahra binti Juli Rojali (6) warga RT 06/02, dan Maesaroh alias Maya (11) warga RT 04/RW 02.
Tim SAR merupakan tim gabungan dari Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, Tagana, PMI, Basarnas, Koramil Ciampea, Polsek Ciampea, Yonif 315, Damkar Kabupaten/Kota Bogor Mahasiswa Pencinta Alam IPB, dan beberapa sukarelawan yang keseluruhannya mencapai 315 orang.
Mereka hilir-mudik mencari korban akibat ambruknya titian Sungai Cihideung Desa Cibanteng Pabuaran, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Hingga kemarin, baru dua yang berhasil ditemukan, yakni Umamah (45) dan Septia Rizky Alamsyah (9).
Untuk mencari enam lainnya, Tim SAR berjuang menentang ganasnya alam dan derasnya arus air. Tim harus menyisir sungai demi sungai, bahkan hingga ke Kali Cisadane di kawasan Kabupaten Tangerang, sepanjang hingga 15-20 kilometer. Lokasi itu memang cukup menantang.
Menurut Yusuf Effendhi, Anggota BPBD Kabupaten Bogor, tim kesulitan karena banyaknya palung yang menimbulkan pusaran air. Ketika ada palung, tim pencari harus ekstra hati-hati, karena bukan tidak mungkin nyawanya terancam dan tenggelam di dasar sungai besar yang dalam itu.
"Kalau orang sini bilangnya Leuwi, itu pusaran air, dalam itu kalau di laut palung," ujar Yusuf ketika berbincang dengan Tribun, Senin (20/2).
Bertugas menjadi relawan bencana, kata Yusuf, memang harus serba ekstra hari-hati. Disamping dibutuhkan kekuatan fisik prima, tim yang berada di lokasi penyisiran pun harus cermat memperhitungkan segala kemungkinan yang terjadi.
Dalam pencarian korban titian ambruk, tim di lapangan menggunakan metode penyelaman dan melawan arus sungai yang terbilang deras. Hal itu dilakukan untuk mempermudah mendapatkan korban yang hanyut.
Sebelum berangkat ke lokasi, Yusuf juga mewanti-wanti tim agar waspada saat berada di Kali Cisadane. Cerita-cerita keangkeran sungai yang membelah Kabupaten Tangerang tersebut menjadi salah satu perhitungannya.
Pesan Yusuf, saat berada di Kali Cisadane adalah agar tidak bersikap sombong dan jumawa. Ia juga memperingatkan agar tidak segan-segan bertanya kepada kuncen atau juru kunci Sungai Cisadane. "Yang penting satu, banyak-banyaklah tanya sama kuncen," jelasnya.
Bukan tidak mungkin, kata Yusuf, dalam upayanya mencari korban hanyut di Sungai Cisadane beberapa sesajian harus dipersiapkan dan dibawa atau diletakkan di bibir-bibir sungai. "Di beberapa titik di sana memang seperti itu ada sesajen, bunga-bunga atau apalah yang nanti diminta sang kuncen jadi harus hati-hati," jelasnya.
Kepala Bidang Ratik BPBD Kabupaten Bogor, Ma'mur juga membenarkan akan keangkeran sungai Cisadane. Meski sebagai muslim dan orang yang percaya akan adanya Tuhan, Ma'mur mengakui harus mempercayai hal-hal yang terjadi di luar nalar manusia.
"Kita orang beragama, muslim rajin shalat, tapi namanya ada kepercayaan mengenai hal-hal itu, harus hati-hati juga," jelasnya.
Baca tanpa iklan