Laporan Wartawan Tribun Lampung
TRIBUNNEWS.COM – Indra Azwan sudah berumur. Usianya 51 tahun. Walau begitu, semangatnya belum habis, terutama untuk mencari keadilan.
Dia bertekat jalan kaki dari Malang ke Mekkah, mengadu pada Allah, karena orang tua ini sudah kehabisan asa hendak mengadu ke mana.
Alkisah, anaknya, Rifki Andika (12), menjadi korban tabrak lari. Sudah lama, 1993. Sembilan tahun terakhir, ia terus berjuang agar orang yang dianggapnya menabrak sang anak, Lettu Pol Joko Sumantri, diadili. Sebuah perjuangan yang tak kunjung membuahkan hasil.
Indra meninggalkan Malang, kampungnya di Jawa Timur, 18 Februari 2012 lalu. Ayah empat anak itu menuju Jakarta.
Dari ibu kota, kakinya melangkah ke Palembang lalu Dumai untuk kemudian menyeberang ke Malaysia. Tujuannya adalah ke Tanah Suci, Mekkah. Ia ditemani kerabatnya, Poedji.
Saat ini, dua pria nekat itu sampai di tanah Sang Bumi Ruwa Jurai, Bandarlampung.
"Pak Indra ingin mengadukan nasibnya dalam mencari keadilan ke Allah. Karena ia merasa merasa sudah tidak ada gunanya mengadukan kepada para pejabat di Indonesia. Termasuk kepada Presiden SBY," papar Poedji, kepada Tribun Lampung, Selasa (3/4/2012).
Menurut Poedji, Presiden SBY pernah menjanjikan akan menindaklanjuti kasus anak Indra. Namun, dua tahun berselang, kabar menggembirakan tak kunjung datang.
Indra juga mengembalikan uang sebesar Rp 25 juta. Uang tersebut diberikan oleh SBY di Istana Negara pada 2010.
Indra tidak butuh uang. Ia merindukan keadilan.
Baca tanpa iklan