News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tembuku Rela Tempuh 12 Jam ke Sekolahnya

Editor: Hendra Gunawan
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

TRIBUNNEWS.COM - JIKA sebagian anak-anak lain diantar oleh orangtuanya untuk pergi ke sekolah, atau naik kendaraan umum bahkan kendaraan sendiri, Tembuku harus berjalan kaki selama dua belas jam dari kampungnya di dalam hutan menuju sekolah.

Karena jauhnya, Tembuku seminggu dua kali pulang ke rumahnya. Selebihnya Tembuku tinggal di tempat penampungan di dekat sekolahnya.   

Dua belas jam berjalan kaki dari tempat tinggal menuju sekolah, itulah yang harus dihadapi anak-anak rimba demi mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

Letak sekolah yang cukup jauh, tidak membuat Tembuku dan rekan-rekannya sesama anak rimba menyerah untuk mendapatkan pendidikan. Mereka terus mengikuti pendidikan di dunia luar yang jauh dari kultur budaya tempat tinggal asal mereka di kawasan Bukit Dua Belas.

Tembuku bersama enam rekannya yakni, Bedingin, Beteduh, Beteguh, Kemetan, Pengidai, dan Budi menceritakan sekelumit kisah mereka menempuh pendidikan sejak 1998 hingga sekarang.

Tidak hanya belajar yang mereka lakukan, tapi juga mengajar. Ilmu yang mereka dapatkan dari sekolah, diajarkan kembali kepada saudara mereka yang ada dalam kawasan Bukit Dua Belas. Hal ini dilakukan karena ingin saudara mereka yang lainnya juga mendapatkan pendidikan seperti mereka.

Menurut Tembuku, untuk mengajak belajar saudara mereka yang terikat dengan aturan adat tentu bukan hal mudah. Terlebih para tumenggung banyak yang menganggap sekolah tidak ada gunanya bagi orang rimba. "Saya sudah sering menyampaikan hal ini, tapi mereka bilang tidak ada gunanya," kata Tembuku, saat ditemui di Sekretariat Warsi Telanaipura, Senin (9/7/2012).

Meski demikian Tembuku dan rekannya tidak menyerah, mereka tetap mengajak saudaranya yang lain untuk belajar. Untuk membujuk supaya anak-anak rimba lainnya mau belajar, Tembuku dan rekannya yang telah sekolah terpaksa harus memancing dengan bermain atau memberikan mereka hadiah.

Tembuku mengaku proses pendidikan yang mereka tempuh selama ini telah membuka mata dan pikiran mereka tentang kehidupan dunia luar, bahkan ia  ingin masyarakat mereka orang rimba bisa secepatnya menyesuaikan diri dengan budaya luar.

Karena itu Tembuku berharap pemerintah lebih peduli dengan kehidupan orang rimba terutama soal pendidikan. "Kita berharap pemerintah peduli dan bisa membantu masyarakat kita di dalam," ujar lelaki yang duduk di kelas tiga SMP ini.

Banyak tantangan yang mereka hadapi selama proses belajar sejak 1998 hingga sekarang. Di antaranya kadang mereka diejek oleh anak-anak di tempat mereka sekolah. Tak jarang mereka ditolak oleh anak-anak lain.

Kejadian serupa tidak hanya terjadi sekali-dua tapi sangat sering, pernah pula mereka didatangi sepulang dari sekolah oleh sekumpulan anak lainnya hanya untuk mengejek mereka.

Keadaan demikian bisa mereka terima, tanpa harus sakit hati apalagi sampai berhenti sekolah, mereka tetap ingin terus sekolah bahkan hingga perguruan tinggi.

Ungkapan serupa juga disampaikan Beteguh (12), dia berharap bisa terus sekolah hingga ke perguruan tinggi, karena ia bercita-cita untuk menjadi peneliti, terlebih lagi prestasinya di sekolah cukup berhasil, dia rangking pertama di kelasnya.

"Saya ingin terus sekolah hingga ke perguruan tinggi, semoga pemerintah bisa bantu kami," kata anak lelaki yang menyukai pelajaran matematika ini.

Harapan ini disampaikan Beteguh karena ia tahu dari uluran tangan dan kepedulian pemerintah dan masyarakat luaslah mereka bisa meneruskan pendidikan.

Ketujuh anak rimba yang bertatap muka dengan para wartawan di kantor Warsi ini mengaku masih tetap bekerja sambil belajar. Mereka melakukan pekerjaan berkebun yang hasilnya mereka harapkan bisa untuk membiayai pendidikan mereka.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini