News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Harga Tembakau Anjlok Dipicu Wacana RPP

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Pelajar dari berbagai sekolah menggelar aksi memperingati Hari Antitembakau Sedunia di kompleks Kantor DPRD DI Yogyakarta, Jalan Malioboro, Yogyakarta, Kamis (31/5/2012). Mereka menuntut antara lain agar pelarangan aktivitas merokok di tempat umum kian digencarkan. KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

TRIBUNNEWS.COM,NGAWI- Ratusan petani tembakau di wilayah Kabupaten Ngawi merugi. Ini menyusul turunnya harga tembakau hingga Rp 10.000 per kilogram. Padahal, saat musim panen Tahun 2011 lalu, hrga tembakau panen masih Rp 18.000 per kilogram.

Diduga, turunnya harga tembakau ini selain disebabkan panen raya juga disebabkan adanya Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tembakau yang diwacanakan pemerintah.

Apalagi, selama ini harga tembakau ditentukan pabrikan dan petani tidak mampu memengaruhi harga yang ditetapkan pabrikan itu.

Salah seorang petani tembakau, Setu (61) warga asal Desa Bangon, Kecamatan Karangjati mengatakan jika anjloknya harga tembakar di pasaran karena tidak adanya pagu yang ditetapkan pemerintah. Selain itu, tidak ada fasilitas dari pemerintah untuk mengatasi anjloknya harga tembakau ini.

Bahkan turunnya Dana Bagi Hasil Cukai dan Tembakau (DBHCT) juga tidak pernah sampai ke tangan petani tembakau.

"Kami selalu jadi korban karena yang menentukan harga pabrik dan tidak ada pagu dari pemerintah. Bantuan dari pemerintah hanya pasra (pisau rajang) yang harganya tak seberapa di Tahun 2011 lalu," terangnya kepada Surya, Selasa (4/9/2012).

Selain itu, Setu mengungkapkan jika saat ini petani panen awal. Pasalnya, umur tembakau yang dipanen antara 70 sampai 80 hari. Padahal, idealnya masa petik pertama itu berusia 90 hari.

"Kami terpaksa memanennya karena memang kondisi pasar tidak menguntungkan kami," imbuhnya.

Sementara, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Ngawi, Waskito mengakui harga tembakau anjlok. Menurutnya, ada 2 faktor yang mempengaruhi harga tembakau menurun yakni over produksi dan mencuatnya wacana RPP tembakau yang dihembuskan pemerintah. Meski pun hasil produksi tembakau di Ngawi mengalami peningkatan 20 sampai 30 persen dibandingkan tahun lalu.

"Meski jumlah produksi meningkat, tetapi kalau harga turun kasihan petani," paparnya.

Sedangkan luas lahan tembakau juga mengalami peningkatan. Jika Tahun 2011 ada 1.200 hektar, kini menjadi 1.600 hektar. Kendati demikian, Waskito tidak menjelaskan secara detail dampak dari penurunan harga dan langkah diambil APTI untuk mendampingi petani tembakau ini.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini