TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG -- Meta, pengasuh yang membawa lari anak Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat memiliki banyak nama. Ayah perempuan berusia sekitar 25 tahun ini masih tak percaya kalau anak yang bernama asli Popon ini membawa lari anak yang diasuhnya.
"Ya, enggak tahu. Di rumah suka dipanggil Eulis, kadang-kadang juga Eneng. Mudah-mudahan segera pulang. Enggak bilang apa-apa, kerja di rumah ibu (Ketua KPID) juga enggak tahu," ujar Umar (55) yang masih terlihat syok atas kejadian ini.
Ayah Popon yang ditemui di kediaman orang tua Ketua KPID Jabar, Neneng Atiyatul Faizia di Gg Abah Emod 72B/210C, no 15 RT 06/03 no 15 Kel Cicaheum Kecamatan Kiaracondong terlihat pasrah. Ia sempat menyebut satu nama panggilan dari Popon, yaitu Ita.
Di rumah H Tasdik N Al Islam tersebut, selain Neneng dan suaminya, Husni F Mubarok juga kerabat dan handai taulan yang bersimpatik atas kejadian ini. Informasi terakhir yang diperoleh keluarga, polisi masih melakukan pengejaran terhadap Meta yang memiliki beberapa nama ini.
Diberitakan sebelumnya, Meta membawa Zahfa keluar rumah dengan alasan akan membeli obat ke warung, namun hingga kini belum kembali.
Polisi dan kedua orang tua Zahfa sempat mendatangi rumah kontrakan Meta di daerah Cicaheum. Namun rumah kontrakan itu kosong.
Pengasuh tersebut diketahui baru bekerja selama 2 minggu di kediaman Ketua KPID Jabar tersebut. Ciri-ciri Meta yang asal Singajaya Garut ini, berusia sekitar 20 tahun, postur tubuh pendek, berambut hitam dan pendek serta berkulit putih.
Baca tanpa iklan