Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Januar Alamijaya
TRIBUNNEWS.COM, BALIKPAPAN - Sama sekali tak pernah terlintas di pikiran Lamuji bahwa kepulangannya untuk berlebaran sebelum Idul Fitri kemarin adalah saat terakhir ia berkesempatan mudik bersama istrinya.
Lamuji adalah salah satu korban dari tenggelamnya KM Surya Indah jurusan Samarinda-Melak pada Kamis (13/9/2012) lalu. Namun diantara korban lainnya ia masih sedikit beruntung, karena berhasil menyelamatkan diri dari peristiwa tragis yang terjadi tengah malam buta itu. Meski kemudian ia terpaksa juga harus kehilangan istrinya, Sumini yang juga menjadi penumpang di kapal naas itu.
Saat ditemui di ruang mortuary RSKD Balikpapan ketika akan mengantar jasad istrinya untuk dimakamkan di Kecamatan Rambon Kabupaten Nganjuk, Lamuji mengisahkan ketika akan menumpang KM Surya Indah dari dermaga Samarinda sebenarnya tak pernah terlintas peristiwa naas itu akan terjadi.
Pasalnya saat akan berangkat ia melihat kondisi kapal masih cukup bagus, dan jumlah penumpang juga tidak terlalu padat, apalagi selama ini ia juga telah terbiasa menggunakan transportasi kapal ketika menuju ke Melak.
Lamuji mengaku sejak beberapa tahun ini memang mencari nafkah di Ibukota Kutai Barat tersebut dengan berjualan pentol goreng yang dijajakan secara berkeliling. Sementara sang istri Sumini senantiasa membantu sekaligus menemaninya di tanah perantauan.
Pada hari itu Lamuji bersama Sumini sebenarnya hendak kembali ke rumah kontrakannya di Kecamatan Melak setelah berlebaran di kampung halaman selama beberapa waktu.
Namun sayang musibah tenggelamnya kapal tersebut membuat ia dan istrinya tak pernah sampai ke rumah kontrakannya di Melak.
Lamuji mengaku setelah kejadian ini ia masih belum bisa berpikir apakah akan kembali ke Melak untuk melanjutkan usahanya atau menetap di kampung halamannya di Kabupaten Nganjuk.
Menurutnya ketika pulang nanti ia harus menenangkan kedua anaknya di Nganjuk sana yang tentu saja merasa bersedih kehilangan ibunya.
Baca Juga:
Baca tanpa iklan