TRIBUNNEWS.COM, UNGARAN - Sekitar 25 balita dan puluhan warga dewasa lainnya di dusun Banyutarung, Bancak, Kabupaten Semarang menghadapi ancaman kekurangan gizi, karena menipisnya persediaan pangan utamanya beras. Warga mulai mengandalkan singkong untuk menggantikan beras yang semakin sulit dibeli oleh warga yang mayoritas bermata pencaharian sebagai buruh tani tersebut.
"Setiap pagi dan sore saya hanya merebus singkong atau ubi untuk makan keluarga. Masak nasi hanya untuk makan siang, itu pun hanya seukuran 0,5 kilogram beras," kata Sutinem (50) warga RT 02/RW 10, Kamis (20/9/2012).
Sementara itu, menurut Kepala dusun Banyutarung Suratno, kondisi yang dialami warganya tersebut berlangsung setiap kali musim kemarau datang. Namun yang lebih mengkhawatirkannya, kondisi kesehatan dan gizi balita akan memburuk jika tidak ada pasokan pangan yang cukup dalam waktu dekat ini. Sebab pada musim kemarau, lanjut Ratno, balita juga diberi makan singkong rebus. Sementara asupan gizinya didapatkan sebulan 2 kali saat ada posyandu.
"Satu-satunya bantuan pangan yang kami terima hanya beras raskin, itupun hanya untuk 34 KK dari total 70 KK. Rendahnya pendapatan warga menyebabkan kami harus berhemat dengan mengonsumsi singkong. Dan akibat kondisi tersebut banyak balita dusun Banyu Tarung yang mengalami kurang gizi," jelas Ratno.
Kondisi rawan pangan yang dialami oleh warga di wilayah perbatasan Kabupaten Semarang-Grobongan itu sebenarnya terungkap saat para wartawan yang tergabung dalam Forum Komunikasi Wartawan Kabupaten Semarang (FKWKS) tengah mengantarkan bantuan air bersih ke dusun tersebut. Bantuan air bersih sebanyak tiga tangki berkapasitas 18 ribu liter tersebut dalam rangka ulang tahun FWKS.
Baca tanpa iklan