News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Petambak Lamongan Tak Berani Tabur Benih Ikan

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Gunadi, petani tambak ikan air tawar mengangkat ikan-ikan yang mati dan terapung di tambaknya, di kawasan Jakabaring Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (30/10/2012). Akibat peristiwa yang belum diketahui sebabnya ini, para petambak mengalami kerugian jutaan rupiah. Menurut Gun ikan para petambak terdiri dari ikan nila, mujair, dan gurame hampir seluruhnya mati. Namun hingga hari ini belum ada pemeriksaan dari pihak terkait. Sriwijaya Post/Syahrul Hidayat (2012-10-30)

TRIBUNNEWS.COM,LAMONGAN – Lain petani yang mengandalkan tadah hujan, untuk petambak meski hujan mulai mengguyur Lamongan, namun para petambak belum bisa berakitifitas tabur benih di lahan miliknya.

Lahan tambak di beberapa kecamatan seperti di Kecamatan Glagah, Turi, Kalitengah, Karangbinangun, Karanggeneng, Laren, Sekaran, Maduran dan Babat masih kering kerontang. Hujan deras yang sudah dua kali mengguyur hanya mampu membasahi permukaan lahan tambak tanpa ada sisa air hujan yang menggenang.

Praktis para petambak masih menunggu kiriman air, baik air hujan maupun gelontoran air dari Bengawan Solo dan anak sungai.

”Mau pelihara benih ikan juga tidak berani, takut mati karena tidak ada air,”kata Nasikan, petambak Dusun Glomo Kecamatan Deket kepada Surya (tribunnews group), Rabu (21/11/2012).

Bahkan untuk harga benih nener maupun vanami petambak tidak banyak yang tahu berapa harga yang berlaku diawal musim penghujan ini. Petambak pasif untuk mencari informasi harga benih ikan, baik nener, udang vanami, udang windu, tombro, mujaer maupun putihan.

Sementara sejumlah penjual benih ikan yang biasanya berjejer di sepanjang jalan raya Deket hingga Turi juga masih belum ada satupun yang menggelar lapaknya. Padahal biasanya masuk bulan ke sepuluh petani sudah mulai tabur benih di lahan tambak mereka.

Terlambatnya petambak tabur benih ikan ini terkait kemarau panjang yang terjadi. Aktifitas petambak hanya seputar meninggikan pematang serta meratakan lahan dan sebagian lahan juga dibajak, baik menggunakan alat bajak konvensional dengan tenaga sapi, kerbau serta sebagian menggunakan alat modern dengan mesin.

“Kalau dihitung dari biasanya, petambak terlambat tanam hampir dua bulan,” kata Sulaiman, petambak Getung Kecamatan Turi.

Sementara itu, petambak di tepian Bengawan Solo tidak berani memanfaatkan airnya dengan cara dipompa karena air Bengawan Solo mengalami intrusi, yakni air laut masuk ke Bengawan Solo hingga rasanya asin hingga radius belasan kilo meter.

Jika memaksakan memasukkan air Bengawan Solo ke lahan tambak, khawatir benih ikan banyak yang mati. Selain berdampak dengan kondisi lahan pertanian jika dimanfaatkan untuk tanam padi usai panen ikan kalu kedua.

Lain lagi jika hujan sudah kerap turun, maka permukaan air Bengawan Solo akan pasang dan air lauttidak banyak masuk ke Bengawan Solo karena kekuatan lawan arus di permukaannya sama tinggi.

Selain itu, anak sungai yang ada juga penuh dengan air.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini