TRIBUNNEWS.COM, SUMEDANG - Majunya tiga pasangan bupati dari jalur perseorangan menjadi tantangan yang cukup berat bagi partai politik. Bahkan dengan adanya delapan pasangan membuat peluang dua putaran terbuka lebar.
"Dengan delapan pasangan yang akan bertarung dalam pemilihan bupati ini membuat peluang dua putaran sangat besar," kata Naya Sunarya anggota Komisi A DPRD asal Golkar di gedung Dewan, kemarin.
Bahkan, terang Naya, adanya tiga calon perseorangan yang maju membuat parpol harus kerja keras untuk mencari dukungan pemilih. "Parpol harus kerja keras sebab bisa orang parpol yang mendukung dan memilih ke calon perseorangan karena ada faktor keluarga atau teman," kata Naya.
Menurutnya, dengan adanya calon perseorangan akan terjadi distorsi. "Faktor keluarga, kerabat dan teman itu sangat berpengaruh sekali. Bisa terjadi orang parpol tapi keluarganya maju dari perseorangan maka mendukung calon perseorangan," katanya lagi.
Hal yang sama ditegaskan Ketua DPC PBB, Sulaeman yang juga anggota komisi B DPRD. "Di lapangan pasti terjadi rebutan suara pemilih antara perseorangan dan parpol. Saat ini wilayah barat Sumedang menjadi rebutan semua calon," katanya.
Selain bisa terjadi dua putaran, dengan banyaknya calon juga sangat berpotensi angka golput atau tidak memilih cukup tinggi. "Dengan banyaknya calon yang maju mencapai delapan pasangan ini membuat masyarakat bingung harus memilih yang mana dan tak menutup kemungkinan membuka angka golput yang tinggi," kata Naya Sunarya.
Warga masyarakat mengaku cukup kaget dengan banyaknya yang ingin menjadi calon bupati. "Ya, kaget juga kalau sampai ada delapan pasangan calon bupati. Banyak sekali dan membuat bingung mau memilih siapa," kata Iwan Setiawan (46) salah seorang warga Sumedang Selatan.(std)
Baca juga:
- Bandara Bungo Belum Diterangi Listrik
- 11 Desa di Batanghari Terendam
- Perbaikan Tiang Listrik Tanggung Jawab PLN
- Perbaikan Tiang Listrik Kok Dibebankan ke Warga
Baca tanpa iklan