News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Persediaan Daging Sapi Menipis di Jawa Barat

Editor: Ade Mayasanto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Pedagang daging sapi menunggu pembeli di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Selasa (27/11/2012). Harga daging sapi di tempat ini masih tinggi, yaitu Rp 90.000 per kilogram. Pedagang memprediksi harga akan susah turun dikarenakan mendekati hari raya Natal dan Tahun Baru. Kompas/Heru Sri Kumoro (KUM) 27-11-2012

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG  - Ketersediaan daging sapi di Jawa Barat mulai menipis, beberapa pekan terakhir ini. Akibatnya, pedagang dan bandar daging sapi kekurangan pasokan dan harga daging sapi pun tinggi.

Ketua DPD Forum Silaturahmi Bandar dan Pedagang Sapi Potong Indonesia Jabar, Yayat Sumirat, menduga kondisi ini terjadi akibat pasokan sapi ke Jabar dari Jateng dan Jatim tidak mencukupi.

"Memang, pada check point di Losari (Cirebon) dan Banjar (Kota Banjar), ada data mengenai jumlah sapi yang masuk ke Jabar, yaitu sekitar 1.200 ekor per hari. Tapi, faktanya, di RPH (rumah pemotongan hewan) dan feedloader kosong," kata Yayat, Rabu (26/12/2012) kemarin.

Menurut Yayat, tidak ada keterangan berapa persen sapi potong, sapi bakalan, dan sapi perah yang masuk check pont. Selain itu, kata dia, pasca-check point, juga tidak ada pendataan mengenai distribusi sapi-sapi itu. "Ke mana saja distribusinya, apakah RPH, atau daerah lain di luar Jabar? Itu tidak ada keterangannya," ucap Yayat.

Kondisi ini, kata Yayat, meresahkan para bandar dan pedagang daging sapi di Jabar karena kekurangan pasokan. Akibatnya, harga jual pun meninggi. Yayat mengatakan, saat ini jumlah sapi potong di feedloader sekitar 40 ribu ekor. Padahal, kata dia, kebutuhan Jabar sebanyak 30 ribu ekor per bulan. "Bisa kita bayangkan, pada Januari 2013, Jabar kekurangan sapi," katanya.

Kurangnya sapi potong, kata Yayat, membuat maraknya pemotongan sapi betina produktif demi pemenuhan kebutuhan. Diperkirakan, jumlah pemotongannya mencapai puluhan ekor per hari. Padahal, secara regulasi, hal itu merupakan pelanggaran berat dan ancamannya pidana.

Tingginya harga tersebut tidak hanya berpotensi merugikan para pedagang daging sapi, tetapi juga para pelaku usaha mikro kuliner yang menggunakan daging sapi sebagai bahan bakunya. "Tidak sedikit di antara para pedagang bakso yang terancam bangkrut," ujarnya.

Melihat kondisi itu, pihaknya mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar untuk segera melakukan langkah-langkah kongkret. Seandainya Pemprov Jabar tidak juga melakukannya, kata Yayat, para bandar dan pedagang daging sapi di Jabar siap melakukan aksi selanjutnya. "Kami siap mogok berjualan di seluruh pasar tradisional Jabar," ujarnya.

Rencananya, kata dia, aksi itu berlangsung Sabtu (29/12/2012) hingga batas waktu yang tidak ditentukan. "Bisa dua hari, tiga hari, satu pekan, bahkan lebih lama, bergantung sikap Pemprov Jabar," ujarnya. Tribun jabar

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini