News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

ITS Hentikan Kerja Sama dengan Malaysia

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Dirut PDAM dan rektor ITS mencoba air minum dari kran.jpg

Laporan dari Faiq nuraini wartawan surya

TRIBUNNEWS.COM,SURABAYA - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berancang-ancang menghentikan kerja sama dengan Malaysia di bidang pendidikan. Kampus khusus teknik dan sains yang berlokasi di Sukolilo ini akan menghentikan pengiriman mahasiswa ke negara tersebut.

Bahkan, Rektor ITS Prof Triyogi Yuwono terang-terangan meminta kepada mahasiswanya untuk tidak studi lanjut ke Negeri Jiran itu.

"Kami ingin dosen-dosen yang ingin studi lanjut (S2/S3) jangan ke Malaysia. Lebih baik ke dalam Negeri (Indonesia) saja bahkan di ITS daripada ke Malaysia," kata Triyogi, Jumat (4/1/2013).

Selama ini ada banyak dosen ITS yang melanjutkan studi berbeasiswa ke Malaysia. Terutama ke Universitas Teknologi Malaysia (UTM). Diharapkan, mereka yang melanjutkan studi ke luar negeri tersebut membawa kemajuan berarti bagi perkembangan ITS.

Namun, harapan itu belum sepenuhny terlihat.

"Penghentian studi lanjut ini jangan dikaitkan dengan politik atau hal lain. Ini murni alasan akademik," tandas Triyogi.

Pria asli Tulungagung ini tidak melihat adanya perbedaan antara studi di ITS dgn di Malaysia. BaikĀ  terkait sistem, kemajuan pengajaran maupun kemajuan penelitian dan kemajuan keilmuan yang lain.

Sebelumnya berkembang informasi di lingkungan dosen ITS bahwa Malaysia kerap menjiplak hasil penelitian-penelitian dosen-dosen ITS. Bahkan ada dosen yang diminta memberi copian penelitian.

"Sudahlah, tak usah diperlebar. Kalau kerja sama yang lain dengan Malaysia soal riset tetap berjalan. Khsusu studi lanjut kita ingin hentikan. Tahun ini kalau bisa jangan melanjutkan studi ke Malaysia. Silakan ke negara maju akan lebih baik," kata Triyogi.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini