News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Pemilihan Gubernur Sulsel

Mabes Polri Prihatin dengan Pilkada di Sulsel

Penulis: Adi Suhendi
Editor: Johnson Simanjuntak
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Suhu politik di Sulawesi Selatan mulai tinggi, hal tersebut terbukti dengan terjadinya bentokan antarpendukung calon gubernur dan wakil gubernur Sulawesi Selatan.

Mabes Polri menyayangkan bentrokan antarpendukung calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu'mang (Sayang) dengan Ilham Arief Sirajuddin-Abd Aziz Qahhar Mudzakkar (IA).

Bentrok terjadi di persimpangan Jl Haji Bau, Jl Arief Rate, dan Jl Cenderawasih, tak jauh dari posko pemenangan Sayang, Kamis (10/1/2013) jelang petang setelah debat kandidat atau calon di Celebes Convention Center, Tanjung Bunga, Makassar, Kamis sore. Usai debat, masing-masing pendukung pulang dan terjadi bentrok.

“Mabes Polri menyayangkan adanya kekerasan dalam pesta demokrasi, ini berkaitan dengan peristiwa kemarin sore, Kamis (10/1/2013). Ketika selesai acara debat kandidat di kota Makassar yang diikuti pasangan calon yang akan ikut Pilkada, jadi diketahui masing-masing simpatisan terjadi bentrok,” ungkap Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar di Mabes Polri saat ditemui wartawan termasuk tribunnews.com di Mabes polri, Jakarta Selatan, Jumat (11/1/2013).

Akibat peristiwa tesebut, kepolisian mendata ada enam orang luka-luka akibat lemparan batu dan panah. Boy mengungkapkan bahwa hal tersebut sangat mengkhawatirkan karena ada indikasi penggunaan benda-benda tajam pada saat bentrokan hal tersebut terlihat dengan adanya korban yang mengalami luka tusuk di punggung akibat busur panah yang menerjangnya.

“Proses demokrasi di sana dengan cara kekerasan oleh masing-masing simpatisan. Kami mengingatkan hendaknya jangan menggunakan cara-cara kekerasan sehingga kita memberikan kegiatan pesta demokrasi yang damai dan semua pihak agar menahan diri,” ungkapnya.

Selain itu, ada pula penghacuran posko salah satu kandidat, hal tersebut menurut Boy tentu saja melanggar norma-norma. “Proses demokrasi seperti itu tidak layak dipertontonkan,” ujarnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini