Laporan Wartawan Tribun Timur, Rudhy
TRIBUNNEWS.COM, MAKASSAR - Pasca pelemparan bom molotov di dua gereja berbeda yakni di gereja GKI Sulsel yang terletak di Jl Samiun dan Jl AP Pettarani yang terjadi dini hari tadi, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, Kamis (14/2/2014) langsung meninjau lokasi atau tempat kejadian perkara (TKP) setelah mendengar adanya kabar tentang peristiwa yang dinilai semakin mengganggu stabilitas keamanan di Sulsel.
Dalam peninjauan tersebut, Syahrul meminta agar teror bom molotov yang terjadi di dua gereja itu tidak dikaitkan dengan masalah ras.
"Jangan hanya karena segelintir orang, kemudian memberi opini bahwa Sulsel, khususnya Makassar terjadi rasial, perbedaan-perbedaan, dan terjadi suasana yang tidak terkendali. Kita harap tidak ada seperti itu," kata Syahrul saat dikonfirmasi.
Atas peristiwa tersebut, Syahrul mengaku, akan segera berkoordinasi dengan aparat kepolisian serta TNI untuk segera menindaklanjuti peristiwa tersebut.
Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi agar peristiwa yang terjadi kali kedua ini tidak lagi terulang.
Apalagi, sebelumnya, sudah ada dua gereja yang juga menjadi lokasi pelemparan bom molotov. Diketahui, jumlah gereja yang menjadi sasaran pelemparan bom molotov atau teror bom berjumlah empat gereja.
Beruntung tak ada korban jiwa dalan kejadian tersebut. Namun hanya kerusakan biasa.
"Saya akan coba cek karena kemarin itu kita cooling betul agar tidak ada reaksi balik dari siapapun, kemudian mendramatisir masalah ini. Saya akan cek lagi dan coba koordinasi dengan kepolisian dan saya kira ini harus menjadi penyikapan kita semua," terangnya.
Kunjungan Syahrul ke gereja GKI Sulsel di Jalan Samiun, juga bertepatan dengan kedatangan Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden RI yang juga tokoh Sulsel, untuk melihat langsung lokasi yang menjadi lokasi pelemparan bom molotov tersebut.
"Ini pastinya tindakan kriminal dan latar belakangnya kita tidak tahu. Polisi yang tahu. Ini kriminal yang harus kita atasi dan mengambil tindakan yang keras terhadap pelaku," kata Jusuf Kalla.
Jusuf Kalla yakin, pelaku pelemparan bom molotov tersebut bermaksud mengadu domba antar ras yang ada di Makassar. Namun, dia berharap, masyarakat tidak terpancing atas insiden tersebut.
"Saya kira, ini cara mereka untuk mengacau. Masyarakat Makassar jangan sampai terpancing provokasi," imbaunya.
Baca tanpa iklan