Laporan Wartawan Surya,Adrianus Adhi
TRIBUNNEWS.COM,TUBAN - Ketua Bidang Ilmiah dan Konservasi Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia Kabupaten Tuban, Edy Toyibi mengungkapkan banjir bandang terjadi karena banyak hutan yang telah rusak.
Ia memperkirakan kerusakan saat ini sudah mencapai 80 persen.
"Hutan itu rusak karena pembalakan liar, pengalih fungsi hutan sebagai ladang pertambangan, perkebunan serta pembangunan rumah," kata Edy lewat selulernya, Senin (08/04/2013) siang.
Edy mengatakan kerusakan hutan juga berlangsung diberbagai wilayah hutan lindung di Tuban, yaitu di Kecamatan Grabagan, Parengan, Soko, Plumpang, Palang, Senori, Merakurak, Kerek, Montong, Jatirogo serta Kecamatan Kenduruan.
Kerusakan hutan tersebut, kata Edy, membuat vegetasi alam berubah, berbagai jenis tanaman langka, jumlah populasi hewan liar berkurang dan tanah yang semula mampu menahan tekanan air kini sudah tak mampu lagi.
"Banjir bandang ini adalah indikator awal terjadinya kerusakan lingkungan di sini," imbuh Edy.
Dugaan Edy ini bukan tanpa alasan, sebab banjir bandang saat ini adalah yang terbesar dalam 10 tahun terakhir ini. Selain itu ia juga telah mengadakan sejumlah penelitian dan pengamatan tentang hutan di Tuban.
"Pemicunya kerusakan ini karena sebagaian besar kawasan hutan difungsikan sebagai hutan produksi," kata Edy.
Menurutnya, kondisi ini semakin diperparah dengan tidak adanya tumbuhan vegetasi yang ditegakkan atau ditumbuhkan di bawah pegunungan. Kata Edy, rumput dan semak di bawah pegunungna kini banyak dimusnahkan diganti dengan areal pertanian ataupun perumahan.
Ia mengungkapkan, kerusaakkan alam akibat habisnya hutan dan rusaknya kawasan lindung juga diperparah dengan makin meluasnya akitivitas pertambangan, baik oleh perorangan maupun korporasi.
Ia berharap pemerintah bisa belajar dari kejadian ini dan bisa lebih memperhatikan kondisi hutan di Tuban. Tak hanya itu saja.
Ia juga berharap jika pemerintah bisa membuat aturan terkait peruntukan kawasan lingkungan dengan mendetail, serta meminta agar Perhutani ikut menjaga kelestarian air dengan mengatur pola tanam.
"Kami berharap kejadian ini tak terulang lagi di waktu depan," katanya.
Baca tanpa iklan