TRIBUNNEWS.COM, GARUT - Sebanyak 13 keluarga di Kampung Cikuda, RT 4/1, Desa Mekarsari, Kecamatan Cilawu, mengosongkan rumahnya dan tidur di pengungsian, Selasa (21/5/2013). Warga yang rumahnya terancam longsor ini pun mulai mengeluh karena tidak memiliki sarana sanitasi berupa jamban umum dan tidak bisa bekerja di sawah dan kebunnya setelah rusak oleh longsor.
Sebanyak 13 rumah dan sebuah musala di pinggiran tebing tersebut pun kosong dengan pintu hampir semuanya terbuka. Gang-gang pun ditutup penghalang berupa kayu dan police line sehingga warga tidak bisa menerobos masuk ke permukiman yang sangat terancam longsor itu.
Terdapat 13 keluarga dengan jumlah 65 jiwa yang mengungsi. Selain di rumah saudara-saudaranya, warga mengungsi di sebuah garasi milik seorang warga. Berbagai perabotan rumah milik para pengungsi ini pun menyesaki garasi. Pada malam hari, garasi ini disesaki empat keluarga dengan jumlah 18 jiwa yang tidur di lantai.
Karena sawah, kolam ikan, dan kebunnya, rusak akibat longsor, para pengungsi yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani pun hanya bisa diam di pengungsian. Mereka mengolah makanan yang diberikan pemerintah untuk kebutuhan sehari-hari.
Seorang pengungsi, Entan (40), mengatakan selain sawah dan kolamnya rusak parah akibat longsor, jamban miliknya pun ikut rusak. Padahal kata Entan, jamban tersebut merupakan jamban umum yang menjadi satu-satunya sarana sanitasi atau MCK bagi warga di kawasan tersebut.
"Sekarang tidak bisa melakukan apa-apa. Sawah dan kolam habis. Jamban juga malah ikut rusak. Semua harus memutar jauh untuk turun ke sungai kalau mau ke air," kata Entan saat ditemui di tempat pengungsian, Selasa (21/5/2013).
Entan berharap pemerintah segera memberikan solusi kebutuhan sanitasi warga. Begitupun kejelasan nasib warga yang kehilangan mata pencahariannya karena sawah, kebun, dan kolam ikan warga rusak akibat longsor.
Warga yang rumahnya berjarak tiga meter dari bibir tebing yang longsor, Yusep (51), berusaha menutupi retakan-retakan di halaman rumahnya yang kian membesar dengan tanah dan tanaman. Yusep berharap bisa mencegah longsor mendekat ke rumahnya. Tanah di sekitar rumah Yusep sudah sangat lunak.
"Sangat berat kalau harus pindah. Soalnya ini satu-satunya rumah dan tanah yang saya miliki. Dari 30 tumbak tanah, 5 tumbak di antaranya sudah terbawa longsor. Biar kebun yang rusak. Asalkan tidak sampai ke rumah saya," kata Yusep.
Yusep mengatakan dia dan keluarganya terus dihantuai perasaan panik dan khawatir. Mereka tidak ingin rumah yang mereka diami terbawa longsor. Keluarga beranggota empat jiwa ini pun mengungsikan barang-barang dari rumahnya dan tidur di garasi tetangganya bersama pengungsi lain.
Baca tanpa iklan