News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Di Melawi, Jengkol Tembus Rp 40 Ribu

Editor: Sanusi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Harga jengkol mengalami kenaikan mencapai Rp 35 ribu hingga Rp 40 ribu per kilogram di Pasar Pasir Gintung, Bandar Lampung, Kamis (6/6/2013). Harga normal untuk satu kilogram jengkol yakni Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu. Kelangkaan persediaan menyebabkan melonjaknya harga jengkol tersebut. (Tribun Lampung/Okta Kusuma Jatha)

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ali
TRIBUNNEWS.COM, MELAWI - Harga Jengkol di pasar Nanga Pinoh Kabupaten Melawi juga ikut naik sejak beberapa hari ini.

Jika semula harga jengkol dibanderol Rp 20 ribu per kilogramnya, sekarang naik menjadi Rp 40 ribu.

Syamsiah, salah seorang pedagang mengatakan bahwa kenaikan harga tersebut disebabkan sulitnya mendapatkan pasokan Jengkol pada saat sekarang.

Jika biasanya, jengkol dibawa dari sejumlah desa dari wilayah Kalteng, namun sekarang sudah sangat jarang ada warga yang memasoknya ke pasar Nanga Pinoh.

“Jengkol di pasar tetap habis terjual. Karena peminatnya sangat banyak, untuk diolah menjadi rendang Jengkol, semur jenkol, untuk lalapan dan lainnya,” ungkapnya.

Syamsiah mengatakan, untuk mendapatkan jengkol agak sulit. Tidak seperti biasanya. Maka dari itu harganya pun agak mahal, kata dia untuk saat ini dirinya mendapatkan jengkol dari warga di Kecamatan Belimbing dengan jumlah 4 kg.

“Walau harga mahal jual tidak sulit, yang sulit dapat jengkolnya,” katanya.

Wahyudi warga Melawi mengatakan bisnis Jengkol masih sangat menjanjikan dipasaran. Hanya saja, ia melihat sangat jarang ada warga yang mau menanam tanaman beraroma khas ini untuk dikembangkan.

“Ya, tentunya kita berharap tanaman jengkol bisa menjadi komoditas yang dilirik pemerintah kita untuk dikembangkan para petani di daerah ke depannya. Tidak hanya sawah, karet dan gahru saja,” katanya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini