Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Steven Greatness
TRIBUNNEWS.COM - Menjelang akhir tahun, Bank Indonesia Kalbar memperkirakan inflasi Kota Pontianak bulan November 2013 akan mengalami penurunan, bahkan berpotensi deflasi. Secara bulanan, perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Pontianak diperkirakan berada di bawah 0,50 persen (mtm). Sehingga secara tahunan, inflasi bulan November diharapkan berada dibawah 10 persen (yoy).
Peneliti Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kalimantan Barat, FX Widarto, mengatakan, satu di antara faktor utama yang diperkirakan menjadi peredam inflasi pada bulan November 2013 adalah terkendalinya permintaan masyarakat seiring berlalunya pelaksanaan berbagai even kegiatan. Kondisi tersebut juga diperkuat dari hasil Survei Pemantauan Harga (SPH) yang dilakukan oleh KPw BI Kalbar di 4 pasar tradisional dan 2 pasar modern di Kota Pontianak.
“Hingga akhir bulan November 2013, hasil SPH menunjukkan bahwa harga sebagian besar komoditas kebutuhan pokok masyarakat relatif stabil bahkan beberapa komoditas tercatat mengalami penurunan harga antara 0,06 persen sampai dengan 15 persen dibandingkan bulan Oktober 2013. Penurunan harga terjadi pada komoditas daging ayam ras, sementara komoditas cabai dan bawang merah mengalami kenaikan yang terutama disebabkan berkurangnya pasokan,” ujarnya kepada Tribun.
Menurut Widarto, hasil SPH relatif sejalan dengan pemantauan harga yang dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kalbar di 4 pasar tradisional di kota Pontianak. Bulan November 2013 perkembangan harga sebagian besar komoditas menunjukkan adanya penurunan, terutama terjadi pada komoditas daging ayam ras, cabai rawit dan ikan tenggiri. Sedangkan bawang merah menjadi komoditas dengan kenaikan harga tertinggi, karena tidak terlepas dari kondisi curah hujan cukup tinggi di daerah sentra penghasil sehingga berpengaruh terhadap produksi komoditas bawang merah.
Selain komoditas pangan, penurunan permintaan masyarakat juga tercermin dari harga tiket angkutan udara yang cenderung turun. Berdasarkan SPH, harga tiket angkutan udara hingga akhir bulan November 2013 mengalami penurunan, lebih rendah dibandingkan bulan Oktober 2013. Perkembangan tarif angkutan udara diperkirakan memberi pengaruh yang cukup dominan terhadap inflasi di Kota Pontianak, mengingat di sepanjang tahun 2013 andil inflasi kelompok komoditas transpor merupakan yang terbesar, mencapai 0,65 persen (mtm) yang disebabkan oleh tarif angkutan udara.
Meskipun harga komoditas cenderung terkendali, terdapat beberapa hal yang perlu diwaspadai menjadi faktor pemicu kenaikan inflasi (upside risk), selain penguatan USD, curah hujan yang berpotensi mengalami peningkatan pada akhir tahun juga berpotensi mempengaruhi produksi bahan pangan dan distribusi barang. Sebab perkiraan BMKG, bulan November 2013 terdapat beberapa daerah berpotensi mengalami banjir di Kalbar.
“Kedepan, terkendalinya harga komoditas tersebut perlu terus dijaga sebagai upaya meredam gejolak inflasi. Dalam keseharian, salah satu bentuk pengendalian inflasi yang paling sederhana yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah dengan menjaga pola konsumsi,” tutur Widarto.
Dengan begitu, pengetahuan masyarakat terhadap informasi harga komoditas sangat diperlukan sebelum melakukan konsumsi sehingga masyarakat diharapkan dapat merencanakan konsumsinya dengan baik.
Kurang Pasokan, Bawang Merah dan Cabai Rawit Alami Kenaikan Harga
Editor: Widiyabuana Slay
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan