News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Desa Wisata Gamplong Terimbas Museum HM Soeharto

Editor: Gusti Sawabi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ATBM di Desa Wisata Gamplong, Moyudan, Sleman

Tribunnews.com - Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki banyak sekali desa wisata. Ada sekitar 60-an desa wisata di Yogyakarta. Namun tak semuanya berkembang dengan baik. Bahkan ada yang mati. Dari sekian banyak yang berkembang, Desa Wisata Gamplong di Kabupaten Sleman adalah salah satunya.

Desa Gamplong relatif berkembang karena imbas dari Museum HM Soeharto yang berada di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul. Desa Kemusuk merupakan desa kelahiran mantan Presiden ke-2 RI.

Menurut penasihat pengelola Desa Wisata Gamplong, Sutopo Sugiharto di Yogyakarta, Senin (24/2/2014), lokasi Museum HM Soeharto dekat dengan Desa Wisata Gamplong, sehinggga wisatawan usai berkunjung ke museum itu kemudian mengunjungi desa wisata tersebut.

"Jadi, ini merupakan imbas dari keberadaan museum mantan Presiden RI tersebut. Hampir setiap hari ada wisatawan yang berkunjung ke Desa Wisata Gamplong. Namun, kunjungan makin ramai saat libur akhir pekan," kata Sutopo.

Kelebihan dan ciri khas Desa Wisata Gamplong adalah produk kerajinan alat tenun bukan mesin (ATBM) sebagai potensi desa setempat kepada wisatawan.

"Dengan potensi produk kerajinan ATBM itu, Desa Wisata Gamplong sampai saat ini mampu bertahan sebagai desa wisata yang diminati wisatawan mancanegara maupun nusantara, karena mempunyai ciri spesifik yang bisa dijual," katanya.

Wisatawan yang datang ke desa wisata itu selalu ingin secara langsung melihat proses produksi kerajinan tenun. "Tiap libur akhir pekan maupun libur panjang dipastikan banyak wisatawan datang. Biasanya wisatawan juga membeli produk tenun desa ini, bahkan terkadang memesan dalam jumlah banyak," katanya.

Sejak tahun 1950-an Gamplong sudah dikenal sebagai desa penghasil barang kerajinan tenun. Keterampilan menenun warga setempat diperoleh secara turun-temurun. Produk tenun dari desa itu awalnya berupa kain lurik, serbet makan, dan barang kerajinan tenun lainnya.

"Namun, saat ini seiring dengan persaingan bisnis maka para perajin berinovasi produk dengan membuat tas wanita, tempat/rak buku, serta aksesori atau hiasan lainnya dengan bahan baku bervariasi di antaranya tanaman eceng gondok, lidi, serat, dan akar wangi yang ditenun menggunakan ATBM," kata Sutopo. (Kompas.com)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini