News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Gara-gara Tak Mau Bukakan Game di Laptop Siswa SD ini Dikeroyok Temannya

Editor: Budi Prasetyo
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Seragam murid SD

Laporan Reporter Tribun Jogja, Siti Ariyanti

TRIBUNNEWS.COM, BANTUL - Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bantul melakukan inspeksi mendadak (didak) ke SD 2 Sanden. Awalnya mereka memeroleh laporan dari seorang wali murid bernama Sugito yang mengaku jika anaknya dikeroyok 13 siswa SD tersebut.

Kepala Sekolah (Kepsek) SD 2 Sanden, Saryana mengungkapakan, sebenarnya kasus yang terjadi pada Selasa (9/12/2014) itu sudah akan diselesaikan secara kekeluargaan. Hanya saja, orang tua korban yang berinisial S tiba-tiba mengurungkan niatnya dan melaporkan masalah ini ke jalur hukum.

Awalnya, teman-teman S meminta agar bocah kelas V SD tersebut membukakan game di laptop milik korban. Namun entah kenapa, S tidak bersedia membuka untuk teman-teman yang tengah bermain ke rumahnya.

Rupanya, kekecewaan teman-teman S dibawa hingga ke sekolah dan terjadi penganiayaan itu.

"Sabtu (13/12/2014) wali murid sudah berkumpul untuk membahas permasalahan ini secara kekeluargaan. Anak-anak yang ikut mengeroyok juga sudah meminta maaf dan berjanji tidak mengulangi lagi. Tapi jadinya tetap melebar," papar Saryana, Selasa (16/12/2014).

Saat ini, pihak sekolah sudah melakukan sejumlah evaluasi. Salah satunya adalah aturan mengenai siswa yang terlibat perkelahian beberapa kali akan dikeluarkan atau mengundurkan diri.

Selain itu, orang tua juga memiliki kewajiban untuk mendidik anak-anaknya di rumah. Saat ini, S sudah kembali masuk sekolah seperti biasa.

Sedangkan Sri Purwiyati, wali kelas V mengaku tidak melihat penganiayaan yang terjadi pagi dan siang tersebut. Saat itu ia tengah mengoreksi pekerjaan siswa.

Namun ia sempat melihat ada kerumunan siswa dan menyuruh untuk duduk di tempat masing-masing lagi. Itu pun ia tak mengetahui sama sekali bila S dikeroyok oleh teman-temannya.

"Keesokan harinya orangtua S datang ke sekolah melaporkan kejadian itu. Tapi S sudah tidak berangkat ke sekolah. Begitu pula Y yang memicu pengeroyokan itu juga enggak masuk. Akhirnya kita panggil semua," ujar Sri. (tribunjogja.com)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini