News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Sidang Dugaan Korupsi Pemecah Ombak, Nama Mantan Kapolresta Manado Lagi-lagi Disebut Saksi

Editor: Dewi Agustina
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Saksi kasus dugaan korupsi pemecah ombak Likupang diambil sumpah dalam Sidang pada Kamis (5/4/2018). TRIBUN MANADO/NIELTON DURADO

Laporan Wartawan Tribun Manado Nielton Durado

TRIBUNNEWS.COM, MANADO - Dugaan Keterlibatan mantan Kapolresta Manado, Kombes Pol Rio Permana kian jelas dalam proyek Pemecah Ombak Desa Likupang, Kabupaten Minahasa Utara.

Hal ini setelah empat saksi yang dihadirkan oleh jaksa penuntut umum (JPU) menegaskan bahwa proyek berbandrol Rp 15 miliar itu terlebih dahulu dikerjakan oleh perwira tiga bunga tersebut.

Keempat saksi tersebut dihadirkan JPU dalam sidang lanjutan dugaan korupsi pemecah ombak, Kamis (5/4/2018) di Pengadilan Negeri (PN) Manado.

Dalam sidang yang dipimpin oleh Hakim Vincentius Banar tersebut, keempat saksi menegaskan bahwa proyek tersebut bukan dikerjakan oleh PT Manguni Makasiouw Minahasa melainkan oleh Rio Permana.

"Kami berempat diminta oleh Pak Robby Mokar untuk mengawasi dan melakukan penghitungan di lapangan. Tapi ketika sudah di lapangan ternyata sudah ada pengerjaan dan disana ada Pak Rio Permana," ujar Nelson Sangadi, salah satu saksi.

Baca: Koalisi Masyarakat Peduli Tumpahan Minyak Siapkan Gugatan Class Action, Turunkan 12 Pengacara

Dia mengatakan tidak pernah sama sekali melakukan pembicaraan dengan Rio Permana.

"Kami hanya pernah bertemu dengan Pak Dicky Langkey dan dia mengakui mengerjakan proyek tersebut atas perintah Pak Rio Permana," ujarnya.

Usai turun ke lapangan, keempat saksi lalu bertemu dengan pihak PPK yakni Steven Solang.

"Disana kami mengungkapkan bagaimana bisa proyek sebesar Rp 15 miliar ini, tidak melalui tender tapi penunjukan langsung. Akan tetapi Pak Steven menegaskan bahwa itu semua bisa dilakukan," ucapnya.

Usai menemui PPK, keempat saksi lalu melakukan pertemuan dengan Robby Mokar di Kantor Bupati Minahasa Utara, kira-kira antara pukul 21.00-22.00 Wita.

"Di sana ada Bupati Minut Vonnie Anneke Panambunan, Kadis PU Minut Steven Koloai, terdakwa Rosa Tindajoh, dan Vecky Tewu," ungkap Helmut Andreas Manabung, saksi lainnya.

Baca: Buronan Pembunuh Pengemudi Taksi Online Kirim Pesan kepada Kades Lewat Facebook

Saat pertemuan itulah keempat saksi lalu mempresentasikan tentang progres pemecah ombak Likupang Minut.

"Kami kemudian melakukan presentasi dan mengatakan saat itu volume pembangunan proyek sudah mencapi 40 persen. Tapi Pak Steven Koloai bersikeras bahwa volume proyek sudah 72 persen," kata saksi.

Perdebatan pun sempat terjadi antara keempat saksi dan kadis PU Minut.

"Disitulah Ibu Bupati Minut mengatakan ambil jalan tengah saja, karena ia buru-buru mau ke Jakarta. Dalam pertemuan itu juga kami mengetahui akan ada pencairan tahap kedua," ujar Helmut.

Di pertemuan di kantor Bupati Minut itu juga, terdakwa Robby Mokar diberikan surat pernyataan harus meneruskan proyek dalam waktu dua minggu.

"Kami lalu meminta agar Pak Robby jangan menandatangani surat itu, karena dari awal bukan dia yang memulai pekerjaan," ucap Saksi Nelson.

Keterangan keempat saksi tersebut lalu menarik perhatian pengacara terdakwa Rosa Tindajoh, Maikel Dotulong.

Baca: Derasnya Arus di Teluk Balikpapan Menghalangi Tim Cari Titik Patahan Pipa Minyak Pertamina

"Tolong saudara saksi menjelaskan apa maksud dari Bupati Minahasa Utara mengatakan ambil jalan tengahnya saja, ketika pertemuan itu?," tanya Maikel pada saksi.

Akan tetapi, Saksi Nelson tak tahu apa maksud dari pernyataan Bupati Minut tersebut.

"Saya tidak tahu apa maksudnya, tapi yang jelas ibu Bupati berkata seperti itu," aku Nelson.

Maikel kemudian menanyakan kepada saksi sudah berapa kali bertemu dengan Rio Permana sewaktu melakukan pengawasan.

"Kurang lebih 3 kali, dan saat itu Pak Rio bersama Dicky Langkey sedang memerintahkan mobil untuk menurunkan material bangunan pemecah ombak," beber Nelson.

Sidang lanjutan dugaan korupsi pemecah ombak Likupang Minahasa Utara (Minut) kali ini menghadirkan lima saksi.

Kelima saksi tersebut empat berasal dari pengawas proyek yakni Helmut Andreas Manabung, Manuel Sadonda, Nelson Sangadi, dan Donald R Lolowang.

Baca: Kecelakaan Karambol di Jalur Pantura Semarang-Kendal, Dua Pengendara Motor Tewas

Sedangkan satu saksi yakni Soei Erni Sumendap, pengusaha yang menjual material pemecah ombak.

Di kesempatan yang sama, Slamet Riyanto mengatakan bakal segera menghadirkan saksi Dicky Langkey.

"Sudah kami panggil dua kali, tapi belum datang. Pekan depan kami usahakan ia hadir di persidangan," ujar Slamet.

Sedangkan untuk peluang Kombes Pol Rio Permana ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini, Slamet mengatakan masih akan melihat fakta persidangan lainnya.

"Nanti kita lihat dulu, yang jelas Pak Rio juga akan bersaksi dalam kasus ini," tandasnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda

Berita Populer

Berita Terkini