News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Dikhawatirkan Terjadi Masalah Gangguan Pola Asuh Anak Terkait Kelahiran Bayi Siswi SD

Editor: Eko Sutriyanto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Seorang siswi kelas 6 SD melahirkan akibat dari tindakan kekerasan seksual yang dialaminya.

Laporan Wartawan Tribun Pontianak Ya'M Nurul Anshory

TRIBUNNEWS.COM, PONTIANAK -  Seorang siswi SD di Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya (KKR), Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), inisial A (13) melahirkan anak laki-laki dengan berat 2,6 kilogram dan panjang 46 cm, berIsiko mengalami gangguan pola asuh anak.

Dosen pengajar Sistem Reproduksi, STIK Muhammadiyah Pontianak, Surtikanti, M.Kep mengatakan masalah selanjutnya yang menunggu ibu yang melahirkan dalam usia muda adalah pola asuh anak.

"Setelah permasalahan sulitnya proses bersalin, masalah selanjutnya adalah pola asuh anak, dimana sangat diperlukan pendampingan orang dewasa dalam pengasuhan anak sehari-hari," ujarnya.

Menurut Surtikanti hal itu disebabkan karena kurangnya pengetahuan ibu terhadap pola asuh anak karena rendahnya pendidikan ibu, dimana dalam kasus ini masih kelas 6 SD.

"Tentu dalam pengasuhan anaknya si ibu harus dibantu, sehingga dia tahu cara mengurus anaknya, karena kita khawatir tumbuh kembang anaknya kedepannya terganggu," tutur Surtikanti.

Menurut Surtikanti hal itu disebabkan karena orangtuanya belum siap untuk membesarkan anak dari segi fisik maupun psikologis.

Dari segi fisik yang dimaksud Surtikanti adalah organ reproduksi, dimana seharusnya organ itu dikatakan siap melahirkan ketika ibu menginjak sekitar usia 20 sampai 25 tahun.

"Meskipun ketika sudah menstruasi dinilai sudah siap namun usia ideal adalah yang saya bilang tadi," tegasnya.

Kendati demikian Surtikanti tidak mengatakan usia dibawah 20-25 tahun tidak dapat atau tidak boleh melahirkan namun  menyiapkan diri secara fisik dan psikologis maka usia 20-25 tahun merupakan usia ideal melahirkan.

Terkait kejadian ironis itu Surtikanti mengatakan diringnya prihatin sekali mendengarnya dan tidak bisa menerimanya.

"Sebagai seorang ibu saya tidak terima dengan kasus ini, yang saya baca anak tersebut juga kembar dan dua-dua nya mengalami hal serupa. Apalagi itu dilakukan pamannya sendiri, saya sangat prihatin sekali," tutupnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda

Berita Populer

Berita Terkini