Pembangunan Berbasis Kebudayaan Jadi Fokus Seminar dan Orasi Kebudayaan Indonesia di Padang
Wahyu Bahar/TribunPadang.com
TRIBUNNEWS.COM, PADANG - Yayasan Pusat Kebudayaan Minangkabau (YPKM) memulai safari untuk menggulirkan kebudayaan menjadi pilar kebijakan nasional.
Satu di antara kegiatan untuk mendorong lahirnya kebijakan pemerintah berbasis kebudayaan ini diwujudkan dengan menggelar Seminar dan Orasi Kebudayaan Indonesia.
Seminar dan orasi kebudayaan itu bertema 'Kekuatan dan peran kebudayaan untuk pembangunan nasional' digelar di Hotel Truntum Kota Padang Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) pada Kamis (22/12/2022) malam.
Baca juga: Antusiasme Masyarakat Minang Sambut Erick Thohir saat Tinjau Proyek Infrastruktur BUMN di Sumbar
Ketua Pembina YPKM, Irman Gusman saat orasi budayanya mengatakan, pihaknya mendorong kebudayaan menjadi konsep pilar dalam pembangunan Nasional, dengan melahirkan pemikiran kuat terhadap kebijakan berbasis kebudayaan.
"Mudah-mudahan Sumatera Barat tetap berkontribusi besar, bukan hanya mengekspor minyak hingga sawit, melainkan memperkenalkan kebudayaan, kesenian, kuliner Ranah Minang hingga dapat dinikmati seluruh masyarakat Indonesia," ujar Irman Gusman.
Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional hingga tokoh asal Sumbar, di antaranya Dirjen kebudayaan Mendikbud Ristek RI, Hilmar Farid, Gubernur Sumbar, Mahyeldi, Steering Committee (SC) Kongres Kebudayaan, Prof. Nusyirwan Effendi, tokoh pers dan sejarawan Hasril Chaniago dan lain sebagainya.
Baca juga: Kemendikbudristek Perkenalkan Budaya Matrilineal Minangkabau ke Level Internasional
Dirjen kebudayaan Mendikbud Ristek RI Hilmar Farid mengatakan, ekonomi yang berbasis kebudayaan budaya itu tumbuh sangat pesat, tapi menurutnya mesti dibedakan dengan industri kreatif.
Ia menuturkan, negara macam Korea Selatan menjadi sangat super-power di industri kreatif dengan budaya pop culture-nya. Begitu juga Amerika Serikat tetap menjadi leading dalam industri kreatif dan teknologi.
"Dalam pembangunan tidak ada satu ukuran yang berlaku umum, Indonesia dalam konteks ini punya ke aneka ragaman hayati yang terbesar, kalau tidak salah kedua terbesar di dunia," kata Hilmar.
Gubernur Sumbar, Mahyeldi saat sambutannya menyampaikan, kebudayaan Minangkabau hingga hari ini masih eksis dan tetap dijaga seiring berkembangnya zaman.
Lapau (warung), surau, dan rantau adalah tiga tempat orang Minang dalam berkehidupan. Di Lapau kata dia, tumbuh pemikiran-pemikiran besar, situasi politik dunia bahkan dibahas oleh orang Minang di lapau-lapau perkampungan.
"Konsep 'Dima bumi dipijak distil langik dijunjung' juga masih bertahan, di mana-mana tidak ada kampung Minang, karena masyarakat Minang itu bisa beradaptasi dan berbaur dengan siapa pun," ujar Mahyeldi.
Ia membeberkan, eksistensi budaya Minangkabau semakin kuat kala pedoman hidup orang Minang 'Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah' dimasukkan ke dalam UU nomor 17 tahun 2022 tentang Provinsi Sumatera Barat.
Lebih lanjut dikatakannya, Pemprov Sumbar sejauh ini berupaya melaksanakan pembangunan yang berbasis kebudayaan. Kata Mahyeldi, pusat keagamaan dan kebudayaan Minangkabau dibangun di kawasan Masjid Raya Sumbar.
Gubernur mengatakan, Masjid Raya ialah menjadi pusat keagamaan, yang desainnya dinilai sebagai salah satu yang terbaik di dunia.
Di kawasan Masjid Raya juga ada gedung Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) dan Bundo Kanduang. Sementara, gedung Majelis Ulama Indonesia juga akan dibangun di kawasan Masjid Raya tahun 2023.
Sementara, SC Kongres Kebudayaan Prof. Nursyirwan Efendi menjelaskan, hadirnya dirjen dalam kongres saat ini merupakan momen yang sangat tepat, dimana pemikiran dirjen merupakan pikiran semua pihak perancang. Maka dari itu, ia berharap semoga dengan dilakukannya kongres kebudayaan Indonesia untuk Indonesia emas 2045 bisa terwujud tahun depan.
"Perlu diketahui saat ini, kita menempatkan kebudayaan sangat penting dan itu sudah lama, tetapi kita menempatkannya sebagai sosok yang strategis. Bagaimana kebudayaan bisa menjadi strategis, yaitu pertama berposisi lebih dulu untuk memulai gerak pembangunan nasional," paparnya.
Jika hal itu sudah disepakati, maka seluruh pihak harus tetap mengawal konsep dan pemikiran tersebut, untuk kemudian pada saat pembuatan rencana pembangunan nasional jangka menengah di tahun 2024. Maka ketika itulah kebudayaan di sertakan ke dalamnya.
"Perlu kita ketahui bahwa pembangunan nasional adalah pembangunan manusia, dan pembangunan manusia adalah pembangunan kebudayaan. Tidak ada manusia yang tidak memiliki budaya," ujarnya.
Untuk di Sumbar sendiri, Nusyirwan berharap Pemprov turut melakukan pembangunan yang berbasis kebudayaan. Ia mengaku sangat tahu Pemprov punya program unggulan pembangunan berbasis kebudayaan.
"Saya tahu betul Progul nomor 1 Gubernur, saya masih tunggu realisasinya," kata dia.
(TribunPadang.com/Wahyu Bahar)