TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua DPC PDI Perjuangan Aceh Utara, Syibral Mulasi, meminta pemerintah pusat segera menetapkan status bencana nasional bagi Provinsi Aceh.
Hal ini menyusul meluasnya dampak banjir dan longsor yang terjadi di berbagai kabupaten/kota dalam beberapa hari terakhir.
Syibral menyampaikan bahwa skala kerusakan serta jumlah warga terdampak sudah melebihi kapasitas penanganan pemerintah daerah.
Oleh karena itu, status bencana nasional menjadi langkah strategis agar bantuan logistik, tenaga, dan peralatan dari pemerintah pusat dapat segera dimobilisasi.
“Situasi di Aceh semakin memprihatinkan. Banyak daerah terendam, ribuan warga mengungsi, dan infrastruktur rusak berat. Penanganan di tingkat daerah sudah mencapai batas kemampuan. Karena itu, kami meminta pemerintah pusat menetapkan Aceh sebagai wilayah bencana nasional demi mempercepat bantuan dan penyelamatan warga,” tegas Syibral, Sabtu (29/11/2025).
Dia pun mengajak semua pihak—instansi pemerintah, lembaga kemanusiaan, TNI/Polri, dan relawan—untuk terus memperkuat koordinasi agar penanganan darurat dapat berjalan efektif dan merata.
Baca juga: Kata Presiden Soal Kemungkinan Status Bencana Nasional di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Tak hanya itu, dia berharap penetapan status bencana nasional dapat mempercepat masuknya bantuan dan memperluas dukungan sumber daya untuk penanganan korban banjir di Aceh.
Sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto menyampaikan perkembangan penanganan bencana hidrometeorologi yang melanda Provinsi Sumatera Utara, Aceh dan Sumatra Barat.
Dalam keterangannya, sebanyak 174 jiwa meninggal dunia, 79 hilang dan 12 luka-luka akibat bencana ini.
Adapun dampak dari bencana yang terjadi di Sumatra Utara, hingga saat ini terdapat 116 korban meninggal dunia dan 42 orang hilang.
Korban tersebar di beberapa wilayah, di antaranya Tapanuli Utara sebanyak 11 orang, Tapanuli Tengah 51 orang, Tapanuli Selatan 32 orang, Kota Sibolga 17 orang, Humbang Hasundutan 6 orang, Kota Padang Sidempuan 1 orang, serta Pakpak Barat 2 orang. Mandailing Natal tidak melaporkan korban jiwa.
“Per hari ini kami mendata korban meninggal dunia 116 dan 42 masih dalam pencarian. Tentu saja data ini akan berkembang terus masih ada titik-titik yang belum ditembus. Yang diindikasikan di lokasi longsor itu mungkin juga ada korban jiwa,” ungkap Suharyanto.
Korban Meninggal Dunia di Aceh 35 Orang
Berikutnya dari Provinsi Aceh, BNPB mencatat 35 korban meninggal, 25 orang hilang, dan 8 luka-luka. Korban terbanyak berasal dari Bener Meriah, Aceh Tenggara, dan Aceh Tengah. Hingga saat ini, pendataan masih berlangsung di sejumlah wilayah seperti Aceh Timur, Aceh Singkil, dan Aceh Utara.
“Ini akan berkembang terus datanya. Dan sementara yang terdata ada 35 jiwa yang meninggal dunia,” kata Suharyanto.
Pengungsian tersebar luas di 20 kabupaten/kota, termasuk 96 titik di Kota Lhokseumawe. Kondisi ini menjadi perhatian utama pemerintah daerah dan pusat untuk percepatan distribusi logistik dan layanan dasar.
Baca tanpa iklan