News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Ilmuwan Temukan Titik Rawan Gempa 'Megathrust' Berikutnya Ada di Sumatra hingga Andaman

Penulis: willy Widianto
Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

GEMPA BUMI - Ilustrasi gempa. Studi Monash ungkap tekanan lempeng bawah Jawa tingkatkan risiko gempa dahsyat di zona megathrust Sunda.

Ringkasan Berita:

  • Studi terbaru Monash University menemukan tarikan masif lempeng di bawah Jawa menciptakan tekanan tektonik hingga Sumatera dan Andaman. 
  • Kondisi ini menjelaskan mengapa zona megathrust Sunda berpotensi memicu gempa paling dahsyat di dunia. 
  • Penelitian juga menunjukkan segmen selatan Jawa dapat menjadi penghalang gempa besar. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Studi terbaru Monash University mengungkap titik rawan gempa megathrust berikutnya berada di Sumatera hingga Andaman.

Tekanan besar dari lempeng bumi di bawah Jawa menciptakan aliran mantel yang mendorong risiko gempa dahsyat di kawasan utara zona megathrust Sunda.

Dengan menggunakan simulasi superkomputer 3D yang canggih, para peneliti menemukan bahwa lempeng bumi yang menghujam jauh di bawah pulau Jawa menciptakan aliran mantel dan tekanan kuat yang terdorong ke utara, hingga mencapai Sumatera dan wilayah Andaman.

Kondisi ini membuat daerah-daerah tersebut berpotensi mengalami gempa bumi paling kuat di dunia.

Zona megathrust Sunda pernah memicu bencana besar di zaman modern, seperti gempa dan tsunami Sumatra–Andaman pada tahun 2004 yang berkekuatan 9,3 magnitudo momen (Mw).

Namun, hingga kini para ilmuwan belum mengetahui secara pasti mengapa gempa-gempa paling dahsyat justru terjadi di segmen utara, padahal lempeng yang menghujam di sana lebih muda, lebih pendek, dan secara teori seharusnya lebih lemah.

Baca juga: Gempa M 5,4 Guncang Lanny Jaya Papua Pegunungan, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami

Penjelasan Ahli

Dr Thyagarajulu Gollapalli, peneliti utama dari School of Earth, Atmosphere and Environment, Monash University, menjelaskan bahwa temuan ini menggugurkan anggapan lama mengenai proses terbentuknya ancaman gempa di pertemuan lempeng tektonik.

"Kami mendapati bahwa tarikan masif dari lempeng Jawa di bawah permukaan bumi bekerja seperti jangkar raksasa, yang menyeret lempeng di sekitarnya dan menambah tekanan tektonik dalam jarak ratusan kilometer," jelas Dr. Gollapalli dalam pernyataannya, Selasa(13/1/2026).

"Tekanan dari kedalaman bumi ini menjelaskan kenapa wilayah utara Sumatera mengalami tekanan terbesar dan gempa terkuat, meski lempeng lokal di sana sebenarnya tidak cukup kuat.”tambahnya.

Penelitian ini juga mengungkap bahwa zona megathrust di selatan Jawa bisa menjadi semacam “penghalang” gempa besar, karena tekanan kuat di sana membuat lempeng saling menekan rapat sehingga kemungkinan patahan raksasa lebih kecil.

Profesor Fabio Capitanio, penulis senior yang juga berasal dari School of Earth, Atmosphere and Environment, mengatakan bahwa penelitian ini memberikan sudut pandang baru yang sangat penting untuk memprediksi potensi bahaya seismik.

"Untuk pertama kalinya, kami berhasil menemukan hubungan antara proses subduksi di kedalaman bumi dengan titik pasti terbentuknya gempa-gempa besar," ujar Profesor Capitanio.

"Model yang kami buat menunjukkan bahwa proses yang berlangsung 600 kilometer di bawah tanah Jawa dapat menjadi penentu lokasi terjadinya bencana di permukaan, sekaligus menunjukkan lokasi yang aman dari kejadian tersebut.” tambahnya

Menurut para peneliti, temuan ini akan membantu memperbaiki model perkiraan risiko gempa di Asia Tenggara, wilayah yang dihuni lebih dari 300 juta orang di sekitar zona megathrust Sunda.

Hasil penelitian berjudul “Bridging the gap between subduction dynamics and the long-term strength of the Sunda megathrust” kini bisa dibaca di jurnal ilmiah Nature Communications.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini