News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Sebanyak 6.000 Penari Zapin di Pekanbaru Catat Rekor Dunia

Penulis: Hasiolan Eko P Gultom
Editor: Wahyu Aji
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

REKOR DUNIA - Sebanyak 6.000 penari mempersembahkan Tari Zapin Masal hingga memecahkan rekor dunia di Jalan Gajah Mada, Pekanbaru, Riau, Minggu (11/1/2026). Pementasan kolosal yang diinisiasi BKOW Provinsi Riau ini menjadi simbol kebersamaan sekaligus komitmen pelestarian budaya Melayu di tengah arus modernisasi.    

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Jalan Gajah Mada, Pekanbaru, Minggu pagi (11/1/2026) kemarin, dipenuhi lautan manusia ketika 6.000 penari mempersembahkan Tari Zapin Masal secara serentak.

Pementasan kolosal yang diinisiasi Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Riau itu tidak hanya menjadi perhelatan budaya, tetapi juga mencatatkan namanya sebagai Rekor Dunia, sekaligus mengukuhkan Riau di panggung internasional pelestarian warisan budaya.

Mengusung tema “Bersatu Dalam Gerak Zapin Lestarikan Budaya Melayu”, ribuan penari bergerak selaras mengikuti irama marwas dan gambus.

Tari Zapin tampil sebagai simbol kekompakan, disiplin, dan penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur yang tetap hidup di tengah arus modernisasi.

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, menyampaikan bahwa keberhasilan ini mencerminkan pilihan Riau untuk terus maju tanpa meninggalkan akar budaya.

Menurutnya, kemajuan teknologi dan pembangunan seharusnya berjalan beriringan dengan pelestarian nilai-nilai tradisi.

“Riau memilih untuk berkembang tanpa tercerabut dari akar, membangun tanpa mengorbankan nilai,” ujar SF Hariyanto di sela kegiatan.

Cerminan Peradaban Melayu

Ia menegaskan bahwa Tari Zapin bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan cerminan peradaban Melayu yang menekankan kebersamaan di atas kepentingan individu.

Gerak yang serempak, menurutnya, merupakan manifestasi adab, keteraturan, dan harmoni sosial.

Nilai-nilai tersebut juga tercermin dalam busana kebaya labuh kekek yang dikenakan para penari perempuan.

Pakaian adat itu dipandang sebagai simbol kehormatan dan marwah perempuan Melayu Riau. Di tengah tren global yang menonjolkan kebebasan tanpa batas, kesantunan justru ditampilkan sebagai kekuatan budaya yang berakar kuat.

SF Hariyanto menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Riau untuk tidak membiarkan budaya Melayu berhenti pada seremoni semata. Perempuan Melayu, kata dia, akan terus didorong menjadi garda terdepan dalam menjaga dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi berikutnya.

Hal lain yang mendapat perhatian adalah penyelenggaraan acara yang sepenuhnya dilaksanakan tanpa menggunakan dana APBD.

Seluruh rangkaian kegiatan digerakkan secara mandiri, sebuah hal yang mendapat apresiasi khusus dari pemerintah daerah kepada BKOW Provinsi Riau atas dedikasi dan konsistensinya.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini