Ringkasan Berita:
- Dugaan perundungan kembali mencuat di PPDS Unsri, dengan mahasiswa junior diduga menjadi korban bullying dan pemerasan oleh senior.
- Kasus serupa pernah terjadi April 2025, melibatkan dokter konsulen anestesiologi di RSMH Palembang yang melakukan kekerasan fisik terhadap peserta PPDS.
- Hasil investigasi menyebut 6–7 dokter PPDS dan perawat pernah mengalami perundungan; pelaku dinonaktifkan sejak 22 April 2025.
TRIBUNNEWS.COM - Perundungan di Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Universitas Sriwijaya (Unsri), Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) jadi sorotan publik.
Seorang mahasiswa junior diduga jadi korban bullying hingga pemerasan oleh seniornya.
Aksi perundungan ini ternyata bukan yang pertama kali terjadi di Unsri.
Pada April 2025 lalu, seorang dokter konsulen di RS Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang menendang alat vital dokter PPDS Unsri.
Dokter konsulen merupakan dokter spesialis senior yang memberikan konsultasi, supervisi, dan pengambilan keputusan medis.
Di rumah sakit, dokter konsulen juga sering menjadi pembimbing dokter PPDS (residen).
Mengutip TribunSumsel.com, aksi kekerasan dokter konsulen Anestesiologi tersebut dilakukan oleh Ys kepada S, mahasiswa PPDS Unsri.
Dirut RSMH, Siti Khalimah pun mengatakan bahwa YS merupakan pembimbing dari S.
"Insiden kekerasan fisik di ruang ICU ini dilakukan Konsulen berinisial dr Ys diduga melakukan kekerasan terhadap seorang peserta PPDS dengan menendang ke arah selangkangan," ujar Siti Khalimah, Rabu (23/4/2025).
Setelah ditelusuri, ternyata tak hanya satu orang saja yang jadi korban.
Kepala Satuan Pengawas Internal RSMH, Wijaya menuturkan, aksi perundungan yang dilakukan oleh Ys meliputi verbal, non-verbal, dan fisik.
Baca juga: 5 Fakta Konsulen Killer Tendang Alat Vital Dokter PPDS Unsri Palembang, Banyak yang Takut Bertemu
Dari hasil investigasi, ada enam hingga tujuh dokter PPDS dan perawat yang pernah menerima perundungan.
"Dokter Ys ini sering marah-marah,"
"Tapi dengan kejadian ini akhirnya ada yang buka suara 6-7 orang," ujarnya.
Menurutnya, banyak korban yang enggan buka suara sehingga ia kesulitan untuk menggali informasi.
"Selama ini belum pernah ada yang melapor,"
"Kebanyakan peserta PPDS dan perawat yang menerima tindak kekerasan dan perundungan ini tidak mau buka suara," katanya.
"Jika dr Ys dilaporkan dia akan marah dengan korban, jadi para korban ini takut," sambungnya.
Ys pun langsung dinonaktifkan pada 22 April 2025 setelah terbukti melakukan aksi perundungan.
Terjadi Lagi di Tahun 2026
Belum ada satu tahun, kasus perundungan kembali mencuat di Unsri.
Terbaru ini menimpa seorang mahasiswa PPDS Ilmu Kesehatan Mata Unsri di RSMH Palembang.
Seorang mahasiswa junior PPDS berinisial OA (35) diduga jadi korban perundungan oleh seniornya.
Bahkan, diduga korban juga sempat melakukan percobaan bunuh diri hingga keluar dari PPDS Unsri.
Tak hanya dirundung, korban juga disebut diperas oleh seniornya.
Taufiq Marwa selaku Rektor Unsri mengatakan, ternyata kasus ini merupakan kasus pada tahun 2025 lalu.
Ia mengatakan, penyelidikan internal telah berjalan sejak September 2025 lalu.
Baca juga: Isu Perundungan di Program Dokter Spesialis Kembali Mencuat, Unsri Palembang Lakukan Investigasi
"Terkait dugaan perundungan dalam lingkungan PPDS Fakultas Kedokteran Unsri, perlu disampaikan bahwa kami telah mengambil langkah-langkah awal secara institusional," kata Taufiq dikutip dari TribunSumsel.com.
Dalam rangka investigasi internal dari pihak kampus, Satgas Pencegahan dan penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) telah ditugaskan.
"Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya memahami konteks permasalahan secara menyeluruh dan berimbang,"
"Selain itu, Fakultas Kedokteran juga telah memberikan pendampingan akademik dan non akademik berupa layanan konseling sebagai bentuk perhatian terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan peserta didik," terang Taufiq.
Dihentikan Sementara
Buntut dari mencuatnya kasus ini, PPDS Ilmu Kesehatan Mata di RSUP M. Hoesin (RSMH) Palembang dihentikan sementara.
Kebijakan tersebut diambil setelah pihak rumah sakit memperoleh instruksi dari Kementerian Kesehatan.
Mengutip TribunSumsel.com, penghentian sementara ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada RSMH bersama Ilmu Kesehatan mata FK Unsri untuk melakukan perbaikan sistem pembelajaran PPDS.
"Penghentian sementara ini dilakukan agar kami dapat melakukan evaluasi dan pembenahan sistem pembelajaran,"
"sehingga tercipta lingkungan pendidikan yang aman, sehat, dan bebas dari perundungan," ujar Direktur Utama RSMH Palembang, Siti Khalimah.
Sebagian artikel ini telah tayang di TribunSumsel.com dengan judul Hasil Investigasi Kelar, Ternyata Ada 7 PPDS Jadi Korban Bullying Ys, Dokter Konsulen RSMH Palembang
(Tribunnews.com, Muhammad Renald Shiftanto)(TribunSumsel.com, Rachmad Kurniawaninda Trisnawati/Agung Dwipayana)
Baca tanpa iklan