Ringkasan Berita:
- Dokter internship Myta Apriliani meninggal diduga kelelahan bekerja setelah dirawat intensif di Palembang.
- Selama magang, Myta bekerja melebihi aturan, mengalami kelelahan, dan terlambat dirujuk saat kondisi memburuk.
- Keluarga menunggu investigasi Kemenkes untuk memastikan penyebab kematian, sementara pihak rumah sakit membantah tuduhan pelanggaran.
TRIBUNNEWS.COM, JAMBI - Myta Apriliani dokter internship di RSUD KH Daud Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, meninggal dunia diduga akibat kelelahan bekerja.
Dokter Myta Apriliani meninggal dunia pada Jumat (1/5/2026) setelah dirawat intensif di RS Mohammad Hoesin, Palembang, Sumatera Selatan.
Pengurus Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) merangkap Ketua Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Unsri), dr Ahmad Junaidi Ahmad menceritakan, dr Myta ditempatkan magang di RSUD Kuala Tungkal bersama tiga dokter lainnya sejak Agustus tahun lalu.
Sesuai aturan, masa magang dr Myta Apriliani akan berakhir tiga bulan ke depan dan Myta akan mendapatkan penempatan tugas barunya.
Namun, selama masa magang itu, pihak rumah sakit di Kuala Tungkal diduga menerapkan jam kerja berlebih.
Myta bekerja selama 12 jam sehari di instalasi gawat darurat.
Padahal, Kemenkes telah mengatur program dokter magang, termasuk aturan terkait jam kerja.
Tiap dokter magang memiliki jam kerja selama 40-48 jam per minggu atau 8 jam per hari dengan lama waktu internship selama 12 bulan.
Selain 12 jam kerja, menurut Ahmad, jam kerja dr Myta Apriliani akan bertambah panjang jika pasien yang ditangani belum tuntas penanganannya saat pergantian sif.
Ini menyebabkan Myta Aprilia mengalami keletihan berkepanjangan.
"Padahal, mestinya penanganan itu bisa dioper ke dokter jaga berikutnya,” ujarnya, Sabtu (2/5/2026).
Selama menjalani tugas di RSUD KH Daud Arif, Myta beberapa kali mengeluhkan sakit.
Ia mengalami batu dan sesak nafas dan sempat berobat di rumah sakit tempatnya magang.
Baca juga: Kemenkes Kirim Tim Terpadu Selidiki Kematian dr Myta, Dokter Internship di RSUD KH Daud Arif Jambi
Tidak Dirujuk
Dari hasil pemeriksaan medis, seharusnya dr Myta dirujuk ke RSUD Raden Mattaher Jambi yang memiliki fasilitas lengkap.
Namun hal ini tidak dilakukan oleh dokter yang menanganinya.
Akhirnya keluarga dokter Myta berinisiatif membawa Myta ke RSUD Raden Mattaher.
Hasil pemeriksaan medis diketahui bahwa kondisi Myta sudah parah. Ia rupanya menderita penyakit TBC yang membuatnya kerap batuk dan sesak.
Pihak keluarga lalu membawa Myta berobat ke Palembang.
Di RS Mohammad Hoesin, Palembang, pada 27 April 2026, kondisi Myta makin parah. Ia pun dirawat intensif di ruang ICU. Namun, kondisi Myta semakin memburuk hingga ia akhirnya meninggal pada 1 Mei.
Klarifikasi pihak RSUD KH Daud Arif
RSUD Kh Daut Arif Kuala Tungkal dikabarkan telah melakukan rapat tertutup membahas peristiwa dr Myta Aprilia Azmy.
Direktur RSUD KH Daud Arif Kuala Tungkal Sahala Simatupang ketika dikonfirmasi membantah tuduhan itu.
"Kalau di-bully itu tidak benar, saya sudah panggil dokter tadi, komite medik sudah sayo panggil, semua saya panggil, kalau di bully tidak ado,"ujarnya Sabtu (2/5/2026).
Sahala Simatupang mengatakan sudah memanggil dokter yang sering berkomunikasi dengan korban dan mengatakan Myta memang sakit.
Baca juga: Dokter Internship RSUD di Jambi Meninggal, IKA FK Unsri Sebut Korban Dipaksa Masuk Saat Sesak Napas
Informasi yang diterima dr Myta Aprilia Azmy ini sudah lama mengidap sakit batuk disertai dengan sesak napas, namun Direktur tidak bisa menjelaskan lebih rinci penyakit yang diderita.
"Sudah lamo sakitnya, dia itu masuk rumah sakit 11 Maret," jelasnya.
Ia menjelaskan pada Senin tim dari Kemenkes RI turun ke Kuala Tungkal untuk mengklafikasi.
"Tadi saya di telpon dari Kemenkes, hari senin mereka mau kesini, nanti biar mereka yang menjelaskan, hari Senin ya bang, sekaligus kita konferensi pers," katanya.
Ia meminta bersabar menunggu klarifikasi hari Senin yang disampaikan Kemenkes di RSUD Kh Daut Arif Kuala Tungkal.
Sikap Keluarga
Keluarga besar dokter Myta menyerahkan sepenuhnya hasil investigasi kepada Kementerian Kesehatan terkait penyebab kematian almarhumah.
Hal ini disampaikan paman almarhumah, dr Febri, saat podcast bersama Tribunsumsel.com dan Sripoku.com, Sabtu (2/5/2026).
“Memang ada dugaan beban kerja berat ataupun faktor lain, namun kami belum mendapatkan data secara lengkap. Saat ini kami masih dalam suasana duka, dan Myta baru dimakamkan pukul 10.00 WIB tadi,” ujar dr Febri.
Ia menambahkan, pihak keluarga juga belum banyak berdiskusi dengan rekan sesama dokter internship yang hadir dari Kuala Tungkal, Jambi.
“Dari Kemenkes juga akan melakukan investigasi di Muara Tungkal pada Senin besok,” katanya.
Menurutnya, keluarga belum dapat menyimpulkan penyebab pasti karena keterbatasan data.
“Kami mengucapkan terima kasih atas respons cepat dari senior, sahabat, serta IKA FK Unsri yang telah mendukung keponakan kami. Apa pun hasilnya, kami serahkan sepenuhnya kepada IKA FK dan Kemenkes,” jelasnya.
dr Febri menyebut, sebelum menjalani penugasan di RSUD Kuala Tungkal, kondisi Myta dalam keadaan sehat dan telah melalui proses seleksi serta skrining medis.
“Tidak ada riwayat penyakit paru, hasil rontgen dan laboratorium juga baik, sehingga dinyatakan layak mengikuti program internship,” katanya.
Selama bertugas, Myta disebut sempat mengeluhkan padatnya jadwal jaga, namun tidak secara rinci.
“Dia hanya sempat bercerita bahwa jadwal jaga cukup padat. Kami tidak mendalami lebih lanjut karena menganggap itu bagian dari pengabdian,” ujarnya.
Artikel ini telah tayang di TribunJambi.com dengan judul Dokter Myta Diduga Bekerja 12 Jam per Hari saat Intership di RSUD Tanjabbar Jambi
dan
Keluarga dr Myta Dukung Investigasi Kemenkes RI, Ini Curhat Terakhir Soal Jadwal Jaga Padat di Jambi
Baca tanpa iklan