News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Dari Daun Jambu Mete Jadi Kain Bernilai Jutaan Rupiah, Karya Alodie Ecoprint Diburu Turis Asing

Penulis: Endra Kurniawan
Editor: Nanda Lusiana Saputri
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ALODIE ECOPRINT WONOGIRI - Dewi Catur Rahayu (50), pemilik dari Alodie Ecoprint yang karya-karyanya kini jadi incaran turis asing. Alodie Ecoprint berada di Desa Pule, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Endra Kurniawan

TRIBUNNEWS.COM – Di bawah sorot cahaya lampu putih, Dwi tampak tekun menjahit lembaran ecoprint satu per satu. Kain-kain bermotif alami itu akan dirangkai menjadi produk fesyen yang jadi incaran turis asing.

Suasana hangat workshop Alodie Ecoprint di Desa Pule, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, siang itu menjadi saksi ketelatenannya.

Mesin jahit model jadul setia menemaninya bekerja. Mata, tangan, dan kaki Dwi bergerak selaras, memastikan setiap jahitan rapi tanpa cela. Ketelitian menjadi kunci lahirnya produk ecoprint berkualitas dari tangannya.

Kemampuan menjahit Dwi memang tak perlu diragukan. Keahlian itu telah ditempanya selama belasan tahun di dunia garmen.

Pun dangu nyambut damel teng PT Sritex 11 tahun. Terus 2025 woten PHK niku (Sudah lama kerja di PT Sritex selama 11 tahun. Lalu pada 2025 ada PHK),” tutur Dwi.

Ia mengaku lebih menjadi “manusia” ketika bekerja di Alodie Ecoprint. 

Dwi mengenang dulu waktunya habis di luar rumah. Berangkat kerja pagi, pulang malam, membuatnya jarang berkumpul dengan tetangga. Bahkan, hanya sekadar ikut pertemuan warga pun tidak bisa.

Nyambut damel teng pabrik mboten kenal tonggo. Mboten saget kumpul-kumpul. Teng mriki saget nyambi nopo-nopo (Kerja di pabrik membuat tidak kenal tetangga. Tidak bisa ikut kumpul-kumpul. Kalau kerja di sini bisa melakukan hal lain),” tungkasnya.

ALODIE ECOPRINT WONOGIRI - Dwi, karyawan Alodie Ecoprint saat menjahit lembaran kain ecoprint untuk disulap menjadi produk-produk bernilai jutaan rupiah. (Tribunnews.com/Endra Kurniawan)

Dari Penata Rias, Terjun ke Dunia Ecoprint

Pemilik Alodie Ecoprint, Dewi Catur Rahayu (50), berkisah bahwa ecoprint merupakan dunia baru baginya. Usaha pertamanya adalah penata rias pengantin dan penjahit sejak 2002 sampai sekarang.

Selama bertahun-tahun, bisnis Dewi mampu bertahan hingga akhirnya badai pandemi Covid-19 menerjang pada 2020. 

Permintaan merias terjun bebas, bahkan ia harus menelan pil pahit karena sama sekali tidak mendapat panggilan selama beberapa bulan akibat adanya pembatasan.

Kondisi tersebut membuat Dewi harus memutar otak agar asap dapur rumahnya terus mengepul. Hingga akhirnya, ia memutuskan terjun ke dunia ecoprint, teknik mencetak motif alami di atas kain dengan brand Alodie—diambil dari nama cucu tercinta.

“Kita keterbatasan ruang gerak untuk rias. Jadi kita berinovasi dengan produk baru, yaitu ecoprint sampai sekarang,” katanya kepada Tribunnews.com, Kamis (16/4/2026).

Ilmu ecoprint tidak didapat Dewi secara tiba-tiba. Ia belajar dari nol. Semua bermula ketika dirinya mendapat undangan pelatihan membatik dari Pemerintah Kabupaten Wonogiri sebelum Covid-19.

Saat acara, turut hadir mahasiswa pendamping dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang memperkenalkan ecoprint.

“Saya ditanya tentang ecoprint. Saya waktu itu masih buta, lalu saya penasaran. Akhirnya dikenalkan dengan dosen mereka untuk belajar lebih lanjut soal ecoprint selama 3 hari,” ucap Dewi.

Sepulang dari Jogja, Dewi langsung berburu bahan di halaman rumah. Ia bereksperimen dengan memakai daun pule, daun jati, daun teruja, daun cosmos, daun eucalyptus, dan daun afrika.

Daun jambu mete khas Wonogiri juga dipakai hingga melahirkan motif yang diberi nama Sekar Jagat—diambil dari kata Sekar berarti bunga dan Jagat bermakna dunia atau kehidupan.

“Filosofinya menceritakan keindahan hutan Wonogiri lengkap dengan hewan-hewan di dalamnya,” tutur Dewi dengan bangga.

ALODIE ECOPRINT WONOGIRI - Foto Pemilik Alodie Ecoprint, Dewi Catur Rahayu saat bersama dengan Sandiaga Uno saat masih menjabat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. (Tribunnews.com/Endra Kurniawan)

Pesona motif Sekar Jagat mampu memikat Bupati Wonogiri Setyo Sukarno untuk membelinya. Produk Alodie juga diminati Sandiaga Uno saat masih menjabat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani.

Dewi juga memastikan pembuatan ecoprint miliknya menggunakan bahan-bahan 100 persen alami dan mengedepankan prinsip keberlanjutan (sustainability).

Pewarna yang dipakai mulai kunyit, secang, kayu tingi, kulit manggis, jolawe, dan teger.

“Tidak ada bahan kimia sintetis sama sekali. Kita juga memanfaatkan limbah daun yang ada di sekitar. Setelah dipakai, tidak dibuang, tetapi bisa dijadikan kompos. Pewarnanya juga alami, tidak mencemari tanah dan tanaman,” imbuhnya.

Diburu Turis Asing

Tidak berhenti hanya pada selembar kain, Dewi kemudian mengembangkan usahanya menjadi puluhan produk fesyen dan aksesori. Mulai dari gamis, cardigan, tas, kemeja, tunik, sepatu, topi, gantungan kunci, hingga dompet.

Dalam sebulan, Dewi mampu memproduksi 150–200 produk ecoprint berbagai jenis, baik kain maupun produk turunannya dengan memberdayakan perempuan-perempuan di tempat tinggalnya, termasuk Dwi.

Harga yang ditawarkan bervariasi, tergantung tingkat kesulitan teknik maupun jenis kainnya. Termurah, Dewi mematok Rp250 ribu berbahan dasar katun, sedangkan yang termahal bisa mencapai Rp1,2 juta dengan kain sutra. Untuk produk turunan ecoprint, harganya Rp25 ribu sampai jutaan rupiah.

“Jadi kita tidak hanya menjual produk, tetapi juga ada nilai-nilai kreativitasnya,” katanya dengan mantap.

Dewi mengklaim ecoprint karyanya memiliki keunikan daripada yang lain. Produknya memiliki warna yang lebih lembut dan doff.

Ia juga berusaha memberikan nilai eksklusivitas, di mana setiap produk memiliki ciri khas tersendiri meski model dan warnanya senada.

“Jadi tetap saya bedakan, punya ciri khas masing-masing. Alodie identik dengan warna-warna doff dan abstrak,” imbuhnya.

Dari segi pemasaran, Dewi memanfaatkan berbagai cara. Ia aktif di media sosial seperti Instagram dan rajin mengikuti berbagai pameran besar di berbagai hotel maupun event, termasuk Solo Art Market (SAM), ruang kreatif dan pasar seni di Selasar Ngarsopuro, Solo.

Kini, produk-produk Alodie menjadi incaran wisatawan lokal maupun asing. Hasil karya Dewi sudah menyebar ke negara-negara di Benua Asia hingga Eropa.

“Banyak turis yang maniak dengan produk saya. Ada dari Thailand, Selandia Baru, Turki, sampai Amerika. Kita sudah ekspor rutin, meski belum banyak, sekitar 5–10 produk,” katanya.

Sementara itu, omzet Dewi dalam satu bulan bersifat fluktuatif. Meski demikian, dalam satu bulan pendapatannya pernah menembus puluhan juta rupiah, sesuatu yang tidak pernah ia sangka.

“Itu pernah dikalkulasi, loh ternyata dalam satu bulan bisa segitu. Saya juga kaget sendiri, Masya Allah, Alhamdulillah,” katanya sembari bersyukur.

ALODIE ECOPRINT WONOGIRI - Alodie Ecoprint kini memiliki banyak puluhan produk fesyen dan aksesori. Mulai dari gamis, cardigan, tas, kemeja, tunik, sepatu, topi, gantungan kunci, hingga dompet. Karya Dewi Catur Rahayu juga menjadi incaran turis asing. (Tribunnews.com/Endra Kurniawan)

Tumbuh Bersama Rumah BUMN Solo

Cerita sukses Dewi membangun bisnis ecoprint tidak dapat dipisahkan dari peran Rumah Kreatif BUMN (RKB) Solo melalui program BRIncubator 2025.

Program ini merupakan inkubasi intensif dan pendampingan terstruktur dari Rumah BUMN yang dirancang khusus untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Alodie bersama 25 UMKM lainnya se-Solo Raya mengikuti program tersebut agar bisnisnya naik kelas pada 14–28 Agustus 2025 lalu, bertempat di kantor RKB, Jalan Adi Sucipto No. 1B, Manahan, Banjarsari, Solo.

Dewi mengaku bisnisnya semakin bertumbuh karena mendapat banyak ilmu dari para mentor. Dalam ajang BRIncubator 2025, Alodie berhasil meraih juara 3.

“Dapat materi banyak sekali. Salah satunya bagaimana kita menonjolkan produk dari yang lain. Ada juga materi keuangan. Meskipun belum bisa menerapkan 100 persen, tetapi alhamdulillah sudah mendapatkan ilmunya,” tambahnya.

Terakhir, Dewi berharap usaha ecoprint miliknya semakin berkembang dan menjaring lebih banyak pelanggan dari dalam maupun luar negeri.

“Ke depan, produk kita semakin dikenal masyarakat luas dan bisa go internasional lebih banyak lagi. Banyak relasi, banyak pelanggan. Semoga ke depannya semakin baik,” tungkasnya.

Tak Hanya Mengantar UMKM Naik Kelas

BIMBING UMKM - Foto penampakan kantor Rumah BUMN Solo di Jalan Adi Sucipto No.1B, Manahan, Banjarsari, Kota Solo, Jawa Tengah, yang diambil Senin (5/5/2026). (Tribunnews.com/Endra Kurniawan)

Rumah BUMN, yang merupakan bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR) Bank Rakyat Indonesia (BRI), memiliki tujuan utama mengembangkan kapasitas dan kapabilitas pelaku UMKM agar naik kelas.

Namun, perannya tidak sebatas itu. Koordinator Rumah BUMN Solo, Condro Rini menjelaskan ada 4 fungsi lainnya.

Peran kedua, Rumah BUMN Solo sebagai satuan tugas (satgas) bencana, menyediakan relawan siap diterjunkan ketika terjadi bencana dan sebagai lembaga penyalur bantuan.

“Kemudian peran ketiga menjadi pusat literasi keuangan memperkenalkan produk-produk perbankan unggulan milik BRI ke masyarakat. Termasuk perihal Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk pelaku UMKM,” katanya saat ditemui Tribunnews.com di kantornya.

Sementara itu, peran keempat, Rumah BUMN Solo juga berfungsi sebagai coworking space untuk berbagai pertemuan.

Baik mitra UMKM maupun masyarakat umum dapat memanfaatkan fasilitas untuk berbagai kepentingan rapat atau tempat gathering.

Peran kelima, Rumah BUMN Solo menjadi pusat kegiatan milenia, mencakup pusat edukasi, kolaborasi, hingga tempat magang untuk para mahasiswa.

“Tujuan utamanya kami bisa mengedukasi teman-teman milenial ini tentang entrepreneur,” tandas Condro. (*)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini