TRIBUNNEWS.COM - Sudah 18 hari rumah warga di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta tiba-tiba terjadi kebakaran tanpa sebab.
Total sejak hari pertama, api telah muncul sebanyak 118 kali di rumah milik keluarga Agusyani Mujianto di Padukuhan Mriyan X, Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Seyegan, Kabupaten Sleman ini.
Tim dari Universitas Gadjah Mada (UGM) pun turun untuk memecahkan penyebab kebakaran yang terjadi secara tiba-tiba tersebut.
Terbaru ini, pada Senin (8/6/2026) kemarin, tim Laboratorium Geofisika Eksplorasi Departemen Teknik Geologi UGM datang ke rumah tersebut sambil membawa alat georadar.
Georadar atau Ground Penetrating Radar (GPR) merupakan alat geofisika untuk memetakan dan mendeteksi objek atau struktur di bawah permukaan tanah menggunakan gelombang elektromagnetik.
Alat ini bisa dipakai untuk mendeteksi lokasi pipa air, kabel listrik, hingga adanya rongga di bawah permukaan tanah.
Dari hasil pemindaian sementara, ditemukan adanya pola atau struktur retakan di bawah permukaan tanah rumah.
Saptono Budi selaku salah satu tim dari UGM mengatakan, timnya datang untuk membantu tim yang sebelumnya sudah datang, tim pendeteksi gas.
"Berbekal dari letak posisi-posisi kebakaran itu di mana, kami mencoba untuk melakukan scanning apakah ada hal di bawah tanah yang memungkinkan bisa menjadi jalan tempat keluarnya gas yang mungkin dari dalam ya yang kemudian itu akan menjadi pemicu kebakaran di permukaan," ucapnya.
Ia menuturkan, ada pola retakan dari hasil sementara pemindaian.
"Jadi yang kalau di atas ini urukan itu terlihat tadi di alat. Kemudian di bawah itu masih ada tanah aslinya kan, tanah asli itu kelihatan ada yang menunjukkan ada pola atau struktur retakannya di beberapa tempat," imbuhnya, dikutip dari Kompas.com.
Baca juga: Titik Api di Rumah Seyegan Sleman Meluas pada Hari Ke-11, Sudah Sampai ke Halaman Tetangga
Retakan-retakan tersebut kemungkinan menjadi jalur gas yang memicu kebakaran.
"Memungkinkan karena kan gas itu tidak butuh besar ya, yang penting dia ada retakan nanti bisa memunculkan,"
"Cuma memang kita belum sampai, baru melihat ada pola-pola retakan yang berhubungan dengan titik-titik api tadi," urainya.
Hari ke 18
Hingga hari ke-18 atau Selasa (9/6/2026), total titik api yang muncul mencapai 118 kejadian.
Baca tanpa iklan