Laporan wartawan Tribun Kaltim, Doan Pardede
TRIBUNNEWS.COM, BALIKPAPAN - Kedua pemuda ini terlihat sangat terampil memainkan alat musik tradisional. Alunan lagu tradisional "Datun Julud" mengalun merdu membuai penonton yang mengikuti acara diskusi rumah murah yang diadakan Ikatan Arsitek Indionesia (IAI) Balikpapan dan Tribun Kaltim di Dafeen Cafe, Sabtu (30/7).
Kedua pemuda itu adalah Fadly (28) dan Angkasa (27). Alat musik yang dimainkan adalah Sampek, alat musik terdisional Kalimantan. Alat musik berdawai 3 ini dimainkan secara apik dengan paduan dua sampek dimainkan bersamaan.
Hal yang menarik pada dua pemuda ini adalah, tetap konsisten untuk memainkan alat musik tradisional di tengah perkembangan teknologi yang mengiringi perkembangan alat musik dewasa ini.
Menurut Fadly, alat musik yang telah dimainkannya selama 7 tahun ini mempunyai keunikan tersendiri, selain unik dari segi suara dan bentuk. Sampek sendiri menurutnya mempunyai nilai estetis tersendiri dari segi bentuk.
"Bermain musik itu harus diiringi dengan rasa cinta terhadap alat musik itu sendiri. Saya sendiri merasa Sampek sangat sesuai dengan jiwa saya, alunan nadanya pas. Itu yang membuat saya tetap di alat musik ini," jelas Fadly.
Hal senada juga diungkapkan Angkasa, pemuda yang sudah dua tahun bermain Sampek ini menuturkan, ketertarikannya memainkan Sampek selain karena faktor "klop", ia juga mempunyai sebuah misi tertentu, melestarikan budaya tradisional.
"Kenapa saya bertahan, ya memang "klop" cocok dengan jiwa. Disamping itu, siapa lagi yang melestarikan budaya tradisional kalau bukan generasi muda, bila tidak ada kepedulian akan budaya, bisa jadi semua budaya itu tidak turun, malah habis terkikis oleh waktu," ungkap Angkasa.
Fadly dan Angkasa tergabung dalam sebuah sanggar Jali-jali enterprise Balikpapan. Untuk semakin meningkatkan kemampuan mereka mengaku melakukan latihan rutin sekali seminggu di Sanggar Jali-jali enterprise tentunya.
Fadly, selain sebagai pemetik juga bisa membuat sendiri Sampek. Pembuatan Sampek menurutnya dilakukan setelah bosan meminjam dari rekan yang lebih senior.
"Sudah ada 10 lebih Sampek yang saya buat. Mulai dari pemilihan bahan hingga proses ukiran. Yang paling lama mengukir, untuk satu Sampek bisa sampai 1 bulan proses pembuatannya,"tambah Fadly.
Mereka mempunyai harapan yang ingin disampaikan kepada pemerintah kota. Dimana para seniman tradisional membutuhkan suatu wadah yang memperttemukan para pemain musik tradisional.
"Kami berharap ada wadah yang menaungi para seniman tradisional yang ada di Balikpapan. Selama ini belum ada seperti di daerah lain. Wadah itu perlu sebagai sarana sharing, agar sesama pemusik bisa lebih dekat. Yang pada intinya terdapat kebersamaan untuk melestarikan budaya daerah," ungkap Angkasa.
Baca tanpa iklan