News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Finalis Putri Indonesia Ini Senang Bisa Ketemu Ketua KPK

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Finalis Puteri Indonesia perwakilan dari Jawa Tengah (Jateng), Rachel Georghea Sentani saat tampil pada malam seni dan budaya/malam bakat Pemilihan Puteri Indonesia 2012-2013 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Senin (28/1/2013) malam. (Tribun Jakarta/Jeprima)

Laporan Wartawan Tribun Jogka, Ikrob Didik Irawan

TRIBUNNEWS.COM, SOLO - Senyum lebar tetap mengembang di bibir Rachel Georghea Sentani, meski gagal menjadi Putri Indonesia 2013.

Namun, Putri Solo yang menjadi wakil Jawa Tengah, berhasil menyabet gelar Putri Terfavorit Kepulauan Jawa, Jumat (1/2/2013) lalu.

Gelar itu diperoleh Rachel setelah memenangkan dukungan lewat polling layanan pesan singkat (SMS). Meski tak bisa mewujudkan cita-cita sejak kecil menjadi Putri Indonesia, ia mengaku senang bisa mendapatkan banyak pengalaman ketika menjadi finalis.

“Ada banyak ilmu dan teman yang saya dapatkan selama menjadi finalis,” katanya, Minggu (3/1/2013).

Menurut Rachel, salah satu hal yang paling berkesan adalah saat bertemu langsung dengan sang idola, Ketua KPK Abraham Samad.

Dara kelahiran Solo, 21 Maret 1993, mengaku sudah lama mengagumi orang yang paling ditakuti para koruptor di Tanah Air.

“Beruntung, pas karantina kemarin bisa ketemu dan ngobrol langsung dengan Pak Abraham,” ujarnya.

Kebahagian Rachel pun bertambah saat bertemu langsung dengan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.

Rachel juga mengaku penggemar pasangan Gubernur Joko Widodo (Jokowi) dalam memimpin Ibu Kota.

“Saya juga bisa ketemu dan bertanya sejumlah program pembangunan ke Pak Ahok. Senang sekali rasanya,” ungkapa Rachel.

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo menambahkan, faktor keberuntungan lah yang membuatnya gagal bisa menjadi Putri Indonesia.

Ia sudah menampilkan semua kemampuan terbaik, termasuk tarian Bondan, yakni menari di atas kendi yang ia peragakan.

“Banyak yang kagum, tapi durasinya dipotong jadi tiga menit. Padahal 10 menit,” jelas Rachel.

Masa-masa karantina bagi Rachel adalah masa yang cukup berat. Setiap hari, ia harus bangun pagi-pagi bersama 37 peserta lain. Siangnya, kesibukan berupa materi baik praktik maupun teori yang sangat padat.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini