Laporan Wartawan Tribunnews.com, Willem Jonata
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Namanya Mohammad Nur Salim. Pria itu seorang ustaz. Dia tinggal bersama istri dan anak-anaknya di Kota Bodowoso, Jawa Timur. Di rumahnya, ia melakukan pekerjaan domestik, seperti mencuci dan menjemur pakaian, mengepel, menyapu, dan memasak.
Sementara, istrinya sibuk sebagai seorang pemimpin di sebuah taman kanak-kanak. Ia juga nyambi mengajar di salah satu sekolah menengah pertama (SMP) di kota itu.
Warga di lingkungan tempat tinggalnya merasa aneh melihat kebiasaan dalam keluarga tersebut. Meski demikian sang ustaz dan keluarganya hidup bahagia.
Itulah sinopsis film dokumenter berjudul "Surga Kecil di Bondowoso", besutan sutradara Nia Dinata. Ia membuatnya untuk mengampanyekan kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam biduk rumahtangga.
"Film ini mengangkat kehidupan seorang ustaz dari Bondowoso yang sangat progresif mengajarkan kepada masyarakat di sekelilingnya tentang pentingnya pendidikan bagi anak perempuan dan keterlibatan aktif laki-laki dalam rumahtangga," ucapnya, Senin, (18/11/2013), di Dharmawangsa Square, Jakarta Selatan.
Yayasan Kalyana Shira bersama Rutgers WPF Indonesia merilis film tersebut karena berangkat dari kepedulian mereka terhadap tingginya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan tingginya kasus kematian ibu.
Dalam film berdurasi 15 menit itu, gamblang memaparkan seting kehidupan sebuah keluarga di Bodowoso, di mana kepala rumahtangga memiliki sikap yang sangat supportif terhadap istri dan anak-anaknya. Sang kepala rumahtangga turut terlibat di ranah domestik: mengasuh anak hingga pekerjaan dapur.
Yang menarik, kepala rumah tangga itu, adalah ulama berpengaruh mendukung hak-hak perempuan. Melalui film tersebut, diharapkan keterlibatan laki-laki untuk memutus kasus KDRT dan kematian ibu saat proses melahirkan.
Baca tanpa iklan