News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Usia 30–40 Kini Rentan Kanker Paru, Non-Perokok Tak Kebal

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

KAMPANYE KANKER - Warga mengikuti kampanye peringatan Hari Kanker Sedunia pada Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (1/2/2026). Kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan motivasi bagi penderita penyakit kanker dan mengedukasi masyarakat dalam melakukan upaya pencegahan serta penanggulangannya. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN

Ringkasan Berita:

  • Beberapa tahun terakhir, dokter semakin sering menemukan kasus kanker paru pada usia 30 hingga 40 tahun, termasuk pada mereka yang tidak merokok dan merasa dirinya sehat
  • Hampir 63 persen kasus kanker terjadi pada individu usia 30–59 tahun
  • Seseorang yang tidak pernah merokok pun tetap berpotensi terpapar faktor risiko lain, seperti asap rokok orang lain, kualitas udara yang buruk, hingga paparan zat tertentu di lingkungan kerja

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kanker paru kini tidak lagi identik dengan lansia atau perokok berat. 

Dalam beberapa tahun terakhir, dokter semakin sering menemukan kasus kanker paru pada usia 30 hingga 40 tahun, termasuk pada mereka yang tidak merokok dan merasa dirinya sehat.

Pergeseran ini menjadi isu yang jarang dibahas secara mendalam, kanker paru pada kelompok usia produktif yang tidak masuk kategori berisiko tinggi secara umum. 

Padahal, studi selama 18 tahun di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar (2002–2019) menunjukkan hampir 63 persen kasus kanker terjadi pada individu usia 30–59 tahun. 

Baca juga: Dokter Ungkap Bahaya Mikroplastik, Bisa Picu Batuk Kronis hingga Kanker Paru

Artinya, kanker termasuk kanker paru, semakin banyak menyerang kelompok usia kerja.

Dalam sesi media briefing bertajuk “Pergeseran Demografi Kanker di Indonesia: Kanker Paru pada Usia Produktif”, Dr. Tanujaa Rajasekaran, Senior Consultant Medical Oncologist dari Parkway Cancer Centre (PCC), menegaskan bahwa profil pasien kanker paru telah berubah.

“Meskipun merokok masih menjadi faktor risiko utama, kami semakin sering menemukan pasien berusia lebih muda dan pasien yang tidak memiliki riwayat merokok,"ungkapnya pada media briefing di Jakarta Selatan, Kamis (26/2/2026). 

"Faktor risiko seperti perokok pasif, polusi udara, paparan di tempat kerja, serta faktor genetika adalah kontributor penting yang tidak boleh diabaikan,” jelasnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa risiko kanker paru tidak lagi bisa dilihat secara hitam-putih. 

Seseorang yang tidak pernah merokok pun tetap berpotensi terpapar faktor risiko lain, seperti asap rokok orang lain, kualitas udara yang buruk, hingga paparan zat tertentu di lingkungan kerja.

Batuk Berkepanjangan yang Dianggap Sepele

Salah satu kasus yang disorot adalah seorang profesional berusia 42 tahun, ayah dua anak, yang memeriksakan diri setelah mengalami batuk berkepanjangan. 

Sebagai non-perokok dengan gaya hidup aktif, ia semula mengira keluhan tersebut hanya gangguan pernapasan ringan.

Namun hasil pemeriksaan lanjutan menunjukkan ia mengidap kanker paru non-sel kecil stadium IV. 

Diagnosis itu datang ketika penyakit sudah berada pada tahap lanjut. Kasus ini mencerminkan kenyataan bahwa gejala awal kanker paru sering kali samar dan dianggap tidak berbahaya.

Gejala seperti batuk yang tidak kunjung sembuh, kelelahan, nyeri dada, atau sesak napas kerap disalahartikan sebagai infeksi biasa atau kelelahan akibat aktivitas padat. 

Akibatnya, banyak pasien baru mengetahui kondisi mereka saat sudah memasuki stadium III atau IV, ketika pengobatan menjadi jauh lebih kompleks.

"Deteksi dini secara signifikan meningkatkan hasil pengobatan," tambah Dr. Tanujaa. 

Sehingga, ketika gejala berlangsung lebih dari beberapa minggu, hal tersebut tidak boleh diabaikan. 

Evaluasi tepat waktu dan skrining yang sesuai dapat memberikan perbedaan yang bermakna terhadap tingkat kelangsungan hidup dan kualitas hidup pasien.

Pernyataan ini menegaskan bahwa perhatian terhadap gejala ringan yang menetap menjadi kunci.

Terutama bagi kelompok usia produktif yang cenderung menunda pemeriksaan karena merasa masih muda dan aktif.

Dampak Emosional yang Sering Terlupakan

Selain persoalan medis, diagnosis kanker paru pada usia produktif membawa dampak emosional dan sosial yang besar. 

Pasien tidak hanya berhadapan dengan pengobatan, tetapi juga tanggung jawab keluarga dan pekerjaan.

Selama dua dekade terakhir, pengobatan kanker paru telah berkembang menjadi lebih terpersonalisasi. 

Keputusan terapi kini didasarkan pada jenis, stadium, dan profil genetik kanker. 

Pendekatan ini memungkinkan terapi yang lebih sesuai dengan kondisi masing-masing pasien, termasuk mereka yang masih aktif bekerja.

Namun, aspek psikologis tetap menjadi tantangan. Diagnosis kanker tidak hanya memengaruhi fisik pasien, tetapi juga mental dan keluarga yang mendampingi.

Pernyataan tersebut menyoroti sisi humanis yang kerap terabaikan, beban emosional pada pasien usia produktif dan keluarganya. 

Ketika pencari nafkah utama dalam keluarga didiagnosis kanker paru, dampaknya bukan hanya medis, tetapi juga sosial dan psikologis.

Kanker Paru Tidak Lagi Pandang Usia

Kesadaran publik tentang kanker paru juga meningkat setelah sejumlah figur publik dan keluarga mereka membagikan pengalaman menghadapi penyakit ini. 

Hal tersebut memperkuat pesan bahwa kanker paru tidak memandang usia maupun latar belakang.

Dengan semakin banyaknya kasus pada usia 30–40 tahun, masyarakat diimbau lebih peka terhadap faktor risiko yang berkembang dan tidak mengabaikan gejala yang berlangsung lama. 

Bagi mereka yang merasa tidak berisiko karena bukan perokok, perubahan tren ini menjadi pengingat bahwa kanker paru bisa menyerang siapa saja.

Langkah sederhana seperti tidak menunda konsultasi medis saat gejala menetap dapat menjadi keputusan penting yang menentukan perjalanan penyakit. 

Di tengah meningkatnya kasus pada usia produktif, deteksi dini menjadi pesan utama yang tidak boleh diabaikan.

 

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini