TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA - Musyawarah Nasional (Munas) PBSI yang digelar di Yogyakarta, 20-21 September 2012 dinilai jauh dari harapan. Meski Munas memutuskan Menperindag Gita Wirjawan sebagai Ketua Umum PBSI yang baru lewat sebuah proses aklamasi yang dirasa sangat dipaksakan.
Sementara Icuk Sugiarto sebagai salah satu kandidat calon ketua umum harus menerima kenyataan dikalahkan sebelum proses pemilihan serta penyampaian visi dan misi dilakukan.
Munas PBSI ini pada akhirnya memang meloloskan dua kandidat calon ketua umum, yakni Menperindag Gita Wirjawan serta mantan pebulutangkis Icuk Sugiarto. Satu kandidat lainnya Ketua DPR RI, Marzuki Alie sudah lebih dulu terganjal. Tim verifikasi menilai ada syarat yang belum terpenuhi sehingga Marzuki Alie ditolak pencalonannya. Ironisnya, saat di Jakarta, Sekjen PBSI Jacob Rusdianto sempat mengumumkan kepada media tentang tiga nama yang telah resmi mendaftar sebagai bakal calon ketua umum PBSI.
Menurut jadwal yang telah disusun panitia, pemilihan ketua umum akan berlangsung Jumat (21/9/2012) pukul 16.00 WIB. Adapun pada Jumat pagi mulai pukul 08.00 WIB dilakukan pemandangan umum dari masing-masing Pengda PBSI terhadap hasil laporan pertanggungjawaban Ketua Umum PBSI terdahulu Djoko Santoso.
Seperti biasa, pada menyampaikan pemandangan umum selalu diakhiri dengan penyampaian aspirasi masing-masing Pengda PBSI yang ingin mencalonkan tokoh yang dicalonkan menjadi ketua umum periode berikut. Dari hasil penyampaian pemandangan umum ada sekitar 27 pengda yang mencalokan Gita Wirjawan sebagai calon ketua umum PBSI periode berikut.
Ironinya, oleh pimpinan sidang dalam hal ini Koesdarto yang juga Ketua Pengda PBSI Yogyakarta, hal itu langsung ditawarkan kepada peserta munas untuk melakukan aklamasi dengan berpatokan kepada pengda-pengda yang telah mencalonkan Gita Wirjawan. Dengan asumsi mayoritas peserta Munas menyetujui maka diputuskan Gita Wirjawan sebagai Ketua Umum PBSI yang baru. Yang menggelikan, pada saat diputuskan baik Gita Wirjawan dan Icuk Sugiarto sebagai calon ketua umum tidak ada di ruang sidang.
"Saya memang tidak ada di ruang sidang karena saya tahu jadwal pemilihan adalah pukul 16.00. Saat itu diputuskan saya dan tim saya tengah menyiapkan bahan-bahan untuk menyampaikan visi dan misi," ujar Icuk.
Mantan juara dunia bulutangkis 1983 ini mengaku prihatin dan kecewa dengan cara-cara kotor yang diperlihatkan pengurus-pengurus PBSI dalam upaya mengganjal seseorang.
"Saya ini ibarat pebulutangkis yang mau bertanding, saya belum pakai sepatu tapi oleh wasit sudah dinyatakan kalah," tutur Icuk.
Bagi Icuk, soal menang atau kalah adalah hal biasa yang sudah dijalani selama 30 tahun. "Kalaupun kalah saya bisa terima asalkan dengan cara-cara yang benar, tidak seperti ini," kata ayah dari Tommy Sugiarto ini.
Ketika pimpinan sidang memaksakan aklamasi sebetulnya bukannya tanpa interupsi. Dari Pengda PBSI NTB, misalnya. Secara tegas Ketua Umum Pengda PBSI NTB, Junaidi Yaman menolak cara seperti ini karena masih ada calon lain selain Gita.
"Kami ini mekanisme pemilihan yang sudah ditetapkan dijalani lebih dulu. Biarkan kedua calon menyampaikan visi dan misi. Setelah kita pilih secara demokrasi sesuai tradisi yang telah berjalan di PBSI selama puluhan tahun," ujar Junaidi.
Hal senada juga disampaikan Sekum Pengda Riau, Adri. "Terus terang kami kecewa dengan cara-cara seperti. Kami bukan pendukung Pak Gita atau Pak Icuk. Tapi, kami ingin melihat dulu visi dan misi mereka, setelah itu baru kami tentukan pilihan kami," papar Adri.
Namun, dengan dalih kalah suara, keputusan melakukan aklamasi tetap dilakukan. Gita Wirjawan pun tetap dipaksakan untuk menjabat Ketua Umum PBSI yang baru periode 2012-2016.
Terhadap keputusan ini Icuk dan Junaidi akan menempuh upaya hukum ke Badan Arbitrasi Olahraga Indonesia. Seperti apa hasilnya, Icuk menilai hal ini tidak bisa dibiarkan agar ke depan PBSI benar-benar dipimpin oleh orang-orang yang mau menghargai demokrasi.
Baca juga:
Baca tanpa iklan