News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Kejurnas Voli Junior 2012

Jatim Juara Putra dan Jabar Juara Putri

Editor: Toni Bramantoro
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi

TRIBUNNEWS.COM, BOGOR - Tim Jawa Timur (Jatim) gagal menyandingkan gelar juara Kejurnas Bola Voli Junior setelah tim putri kalah dari Jawa Barat (Jabar). Jatim hanya mampu membawa satu gelar lewat tim putra setelah mengalahkan DI Yogyakarta (DIY).

Pada pertandingan final yang digelar di Padepokan Voli, Sentul, Bogor, Jabar, Jumat (21/12), putri Jabar merebut gelar juara dengan mengalahkan Jatim 3-1 (25-15, 16-25, 25-17, 25-19).

Atas hasil ini, Jatim gagal mempertahankan gelar juara yang tahun lalu mereka gapai dengan mengalahkan Jabar.

Jabar terakhir merebut gelar pada 2010. Berkat gelar juara ini, Jabar berhak mendapatkan hadiah Rp 7,5 juta, sedangkan Jatim mendapatkan Rp 5 juta, sedangkan DKI dan Jateng yang menduduki peringkat ketiga dan keempat masing-masing membawa pulang hadiah Rp 2,5 juta dan Rp 1 juta.

Jumlah hadiah yang sama juga didapat tim putra. DKI putri menundukkan Jateng dengan skor 3-1 (21-25, 25-20, 25-22, 25-21).

Dalam beberapa tahun terakhir, kedua daerah ini memang selalu saling mengalahkan di final. Jabar dan Jatim merupakan penghasil pemain-pemain top di Indonesia dan juga penyumbang pemain Timnas Indonesia.

“Anak-anak bermain luar biasa. Namun, saya menilai, kami lebih unggul pada materi pemain,” kata Ketua Harian Pengprov Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Jabar, Dadi Saridji.

Dilihat dari postur tubuh, rata-rata pemain Jabar memang lebih tinggi dibanding Jatim. Jabar mempunyai dua pemain 178 cm (Wilda Siti dan Tri Retno) dan satu 179 cm (Yolla Yuliana). Di luar itu, rata-rata pemainnya 175 cm. Dua pemain tertinggi Jatim (174 cm) adalah Hanny Budiarti dan Siska Putri Rosaningrum. Para pemain inti lainnya rata-rata 171 cm. Unggul dari sisi postur tubuh, membuat para pemain Jabar dengan mudah melakukan serangan dan blok.

“Variasi serangan kami kurang. Sering salah sendiri. Kami kini harus berlatih lebih keras lagi,” kata Siska.

Pelatih Jatim Sudarto, sebelum pertandingan itu memang memberi penilaian jika timnya harus mewaspadai Yolla dan Wilda, yang tampil menawan di final itu. Dua pemain yang berposisi sebagai quicker ini memang tampil menakjubkan lewat blok dan smesnya.

Di bagian putra, Jatim kembali mempertahankan gelar juara setelah menundukkan DIY 3-0 (25-20, 25-18, 25-17). Gelar ini merupakan yang keempat kalinya secara berturutan. Jatim selalu menggapai gelar sejak 2009. Pada kesempatan ini, Jatim mengandalkan semua pemain muda Samator.

“Saya lihat DIY sudah tertekan sejak awal. Mereka seperti terbebani dan mungkin takut dengan kebesaran nama Samator. Selain itu, karena kami tidak pernah kehilangan satu set pun sejak awal hingga empat besar,” kata pelatih Jatim Iwan Dedy, yang setiap hari melatih di klub Indomaret.

Selain itu, Jatim mempunyai satu pemain timnas, I Putu Randu dan pemain timnas junior Ahmad Faisal.

Namun, pelatih DIY Bayu Krisnanto tidak setuju jika para pemainnya dikatakan takut. “Harus diakui jika materi pemain mereka lebih lengkap. Mereka juga satu tim setiap harinya, sedangkan kami dari berbagai klub (Yuso, Ganefo, dan Baja) dan baru berkumpul satu minggu menjelang kejuaraan,” katanya.

Bayu menalai, penerimaan bola pertama timnya sangat buruk. Libero yang biasanya tampil menawan, pada final itu gagal menunjukkan permainan terbaiknya. Dia justru menjadi sasaran servis para pemain Jatim. “Kami lemah di quicker, kami tidak tidak punya quicker murni, sedangkan mereka merata (open dan quick smash),” katanya.

Peringkat ketiga diduduki Jateng yang mengalahkan DKI 3-2 (25-12, 25-15, 17-25, 21-25, 17-15).

Klik Tribun Jakarta Digital Newspaper

 
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini