TRIBUNNEWS.COM - Pelatih kepala nomor tunggal putri Pelatnas Cipayung, Liang Chiu Sia, mengatakan bahwa hasil buruk yang diperoleh Lindaweni Fanetri di sejumlah turnamen belakangan ini mempengaruhi kondisi mentalnya.
Linda tidak mampu memetik hasil yang baik di dua turnamen superseries masing-masing Chinese Taipei Open Grand Prix Gold 2013 dan Japan Open Super Series 2013. Hal itu berimbas pada penampilannya di turnamen Yonex-Sunrise Indonesia Open Grand Prix Gold 2013 yang digelar di Yogyakarta.
"Hasil-hasil yang kurang baik di turnamen sebelumnya memang memengaruhi Linda. Apalagi di awal pertandingan tadi dia sempat ketinggalan. Sekarang ini kami fokus untuk mendukung Linda supaya bisa mengembalikan rasa percaya dirinya," ujar Liang Chiu Sia, Kepala Pelatih Tunggal Putri PBSI.
Sebagai pemain tunggal putri andalan Indonesia saat ini, Linda mengemban tanggung jawab yang cukup besar, ditambah lagi para pecinta bulu tangkis Tanah Air yang terus mengharapkan kebangkitan di sektor tunggal putri.
Prestasi Linda mulai menanjak sejak ia berhasil meraih gelar juara di India Open Grand Prix Gold 2012. Nama Linda mencuat setelah di All England 2013 ia berhasil menumbangkan Wang Yihan, Juara Dunia 2011 dari China.
Di Singapore Open Super Series 2013, Linda lagi-lagi membuat kejutan saat menaklukkan peraih medali perunggu Olimpiade London 2012, Saina Nehwal (India).
Pada turnamen Yonex-Sunrise Indonesia Open Grand Prix Gold 2013 di GOR Among Raga, Yogyakarta, tim Indonesia bertekad bisa menyapu bersih gelar juara, Linda pun diharapkan mampu mengamankan gelar tunggal putri. Babak pertama dilewati Linda dengan mengalahkan juniornya di Pelatnas Cipayung, Ruselli Hartawan, 21-16, 21-9.
"Di game pertama memang sempat alot, karena Linda masih menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan, angin dan cahaya lampu. Beberapa kali lob-lob Linda dinyatakan keluar. Tetapi di game kedua, dia bisa menang jauh," ujar Chiu Sia.
Usaha Ruselli memberikan perlawanan sengit pada Linda juga mendapat apresiasi dari tim pelatih tunggal putri. Sarwendah Kusumawardhani, Asisten Pelatih Tunggal Putri PBSI, yang beberapa bulan terakhir tengah fokus menangani pemain muda, mengatakan bahwa Ruselli memiliki fighting spirit yang cukup bagus.
"Saya pantau dari kemarin, Ruselli sudah ada kemajuan, teknik permainan sudah lebih bervariasi dan tidak monoton. Apalagi kalau melawan seniornya, dia punya keinginan besar untuk bisa menang. Sayangnya dia masih sering kehilangan konsentrasi. Sebagai pemain muda, Ruselli masih perlu didampingi pelatih saat bertanding," ujar Sarwendah, mantan pemain tunggal putri era 90-an.
Selain Linda, Ana Rovita dan Rusyidina Antardayu Riodingin juga lolos ke babak kedua Yonex-Sunrise Indonesia Open Grand Prix Gold 2013. (Warta Kota/Murtopo)
Baca tanpa iklan