News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tanpa Boaz Pun Indonesia Bisa!

Editor: Hasiolan Eko P Gultom
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pertanyaan mampukah target juara Piala AFF 2010 yang dipatok PSSI bisa tercapai, seiring keputusan pelatih Timnas Indonesia Alfred Riedl, mencoret satu di antara pemain andalan Merah Putih, Boaz Solossa, terus mencuat. Kekhawatiran kembali jebloknya prestasi Timnas tanpa Boaz di ajang yang tadinya bernama Piala Tiger tersebut menjadi satu alasan mengapa polemik itu muncul.

Begitu pentingnya peran Boaz sebagai penggedor jala lawan memang amat terasa. Meski Timnas memiliki nama lain yang tak kalah sakti, seperti Bambang Pamungkas dan Budi Sudarsono, nama Boaz selalu menjadi harapan ribuan pecinta Timnas Indonesia. Bahkan PSSI melalui Sekjennya, Nugraha Besoes, berharap Riedl bisa bijaksana menyikapi pencoretan Boaz. Tak hanya itu, deputi bidang teknis Badan Tim Nasional (BTN) PSSI Iman Arif akan terbang ke Jayapura. Selain melihat perkembangan striker muda Lukas Mandowen, Iman juga dikabarkan ingin melakukan dialog dengan Boaz.

Tapi keputusan telah dibuat. Besoes pun mengatakan PSSI tak bisa turut campur dalam masalah tersebut. Pencoretan Riedl sepenuhnya kewenangan Riedl selaku pelatih.

Boaz memang jago, cukup hebat untuk membawa asa bangsa ini untuk memperoleh pengharapan prestasi Timnas akan terangkat lewat skill individunya yang memukau. Pun sikap indisiplinernya rupanya tak kunjung surut. Hal ini yang membuat Riedl, apapun alasan Boaz, mencoret kapten Persipura tersebut dari skuad Timnas di Piala AFF 2010.

Gentarkah Riedl menghadapi turnamen tersebut tanpa seorang Boaz? Jawabannya tidak! Dengan tegas berujar mencoret Boaz. Sepertinya ia yakin kolektifitas tim berada di atas segalanya ketimbang mengandalkan seorang pemain.

“Boaz keluar! Saya pastikan itu. Kesempatan telah diberikan, namun ia tidak memanfaatkannya. Saya yang buat keputusan ini, bukan dia yang memilih keluar. Sudah lima hari dia tak datang dan saya tak butuh alasan lagi dari dia,” cetus Alfred.

Optimisme tanpa Boaz ini pun terlontar dari sebagian Facebooker Tribunnews.com. Toh, dengan Boaz pun Indonesia belum mampu berbicara banyak di kancah pesepakbolaan. Memang mengecewakan, tanpa Boaz di Timnas bagai sayur tanpa garam -bahkan tanpa sayuran!

Amat disayangkan memang saat Chris.Gonzales dinaturalisasi dan Okto Maniani masuk Timnas senior, Boaz malah out. Tapi Indoensia tetaplah Indonesia, dengan atau tanpa Boaz. Sepak bola bukan hanya soal kalah-menang, terlebih soal kebanggaan dan nasionalisme. Hal ini yang tampaknya coba dibungun Riedl

Pun banyak pelajaran yang diambil termasuk pembenahan di pembinaan. Andai saja ada empat atau lima pemain macam Boaz di Indonesia, mungkin pencoretan tersebut tak sampai menuai polemik. Kontroversi ini juga membuktikan ketergantungan Timnas akan sosok individu, bukan kolektif -sepertinya mata rantai itu yang coba diputus oleh Riedl.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini