News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Nasib Tragis Pemain Asing Persis Solo

Komentar Terbaik Facebooker Terkait Kematian Tragis Diego

Penulis: Widiyabuana Slay
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Seorang teman sedang memberikan penghormatan terakhir bagi mantan striker Persis Solo PT LI, Diego Mendieta yang meninggal karena sakit, Rabu (5/12/2012). Jenazah Diego disemayamkan di rumah duka Tiong Ting di Jalan Kolonel Sutarto, Jebres, Solo sebelum diberangkatkan ke Paraguay. TRIBUN JOGJA/Ikrob Didik Irawan

TRIBUNNEWS.COM - Mantan penyerang Persis Solo versi PT Liga Indonesia Diego Mendieta meninggal dunia pada Selasa, 4 Desember 2012 dinihari, karena terinfeksi virus dan jamur yang cukup parah. Pemain berkewarganegaraan Paraguay berusia 32 tahun ini meninggal setelah dirawat sejak 27 November lalu.

Tragisnya, sebelum meninggal, ia sempat menelepon Totok Supriyanto, Manager Persis, untuk mempertanyakan gajinya. Sayangnya, hanya diberi janji semata dan gajinya baru dilunasi setelah ia meninggal. Sejumlah facebooker memberikan komentar terkait dengan kisah tragis dari pemain asal Paraguay ini.

Facebooker dengan screen name Bang Doel misalnya. Ia menulis, Diego Mendieta ini bermain di Persis Solo, klub yang berlaga di ISL. Ini berarti KPSI yang harus bertanggung jawab. KPSI tidak terdaftar di AFF, apalagi organisasi sepakbola tingkat atasnya.

"Kalau saya keluarga Diego, KPSI dan Persis adalah badan hukum yang legal, maka saya akan mengajukan gugatan hukum atas kematian Diego. Kenapa? meninggalnya Diego diakibatkan atas kelalaian Persis membayar gaji, ini pelanggaran. Bukankah pemain sepakbola adalah 'pekerja'? Jangan enaknya saja, tenaganya dipakai, tapi tidak dibayar. Keterlaluan," tulisnya.

Namun, Azhary Cha Lee Ga punya pendapat lain. Ia menulis, tak ada namanya PSSI atau KPSI yang bertanggung jawab. Menurutnya, atas semua masalah yang terjadi, pemerintah yang menjadi kunci pokok persoalan dari keruwetan dunia sepakbola Indonesia.

Facebooker bernama Seno Widjaja melihatnya dari sudut lain. "Untuk shock theraphy bagi seluruh klub sepak bola Indonesia bahkan internasional agar tidak terulang di kemudian hari, kasus dengan kelalaian seperti ini harusnya, klub sepak bola yang bersangkutan wajib memberi nafkah hidup bagi yang ditinggalkan hingga akhir hayatnya," demikian ia berkomentar.

SPORT POPULER

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini