TRIBUNNEWS.COM - Quadruple Arsenal berada di depan mata saat memasuki bulan Maret lalu. Pujian demi pujian diberikan publik untuk tim asuhan Mikel Arteta yang mampu tampil impresif dalam empat ajang di musim ini.
Yakni melaju ke final Carabao Cup, perempat final Piala FA dan Liga Champions, hingga kans juara Liga Inggris karena keunggulan sembilan poin dari Man City saat menyisakan tujuh pertandingan musim ini. Arsenal terdepan dalam hal kepercayaan diri.
Namun, perlahan Arsenal seperti kehilangan kendali dan jati diri. Permainan yang mulai berantakan, konsistensi yang mulai memudar, hingga hasil yang yang di luar jangkauan.
Arsenal kalah meyakinkan dari Man City di final Carabao Cup dengan skor 2-0. Tidak hanya dari hasil pertandingan, tetapi juga secara keseluruhan dalam permainan.
Arteta punya waktu untuk berbenah setelah kegagalan tersebut dengan adanya FIFA matchday.
Dua pekan berlalu kemudian langsung disambut dengan pertandingan melawan tim kasta kedua Southampton di perempat final Piala FA, Minggu (5/4) dini hari.
Tak disangka, Arteta yang menurunkan sejumlah pemain yang kurang mendapatkan menit bermain musim ini takluk dengan skor 2-1.
Shea Charles mencetak gol kemenangan The Saint -julukan Southampton- pada menit ke-85 untuk menyingkirkan The Gunners.
Ini adalah kali pertama Arsenal mengalami kekalahan beruntun pada musim ini, dan menjadi yang kelima di semua kompetisi.
Itu artinya, dalam jeda waktu dua pekan, dua gelar melayang. Mimpi untuk menciptakan sejarah itu sirna, dan kini yang tersisa hanya dua trofi utama yang sudah menjadi target, mampukah Arsenal dengan segala kondisi saat ini untuk mendapatkannya?
Setelah kalah dari Man City dan tersingkir dari Piala FA oleh tim di luar Liga Inggris untuk pertama kalinya sejak musim 2021/2022, Arsenal perlu memastikan hasil tersebut tidak berujung pada penurunan performa.
"Mereka tidak boleh membiarkan musim ini lepas kendali," komentar mantan penyerang Arsenal, Theo Walcott kepada BBC setelah kekalahan atas The Saint.
Arteta selalu berujar tentangan keinginan semua orang di klub untuk menang, tetapi jelang akhir musim, mentalitas itu seakan meredup.
Pelatih asal Spanyol tersebut tak boleh lupa bahwa ia telah didukung klub dengan mahar 250 juta pound lebih untuk menambah kekuatan tim musim ini, dan secara otomatis tekanan untuk merebut gelar juara lebih tinggi daripada musim sebelumnya. Apalagi saat ini sudah berada di depan mata.
Baca tanpa iklan